Bagaimana Hukumnya Memberi Pada Pengemis yang Hanya Pura-Pura Miskin?

90 views Leave a comment
Bagaimana Hukumnya Memberi Pada Pengemis yang Hanya Pura-Pura Miskin?

Dailymoslem – Mungkin anda pernah mendengar cerita tentang pengemis yang ternyata punya rumah besar, mobil, dan juga kekayaan lainnya yang bahkan mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang yang memberinya recehan setiap hari.

Hal ini menyebabkan kita yang pernah memberi pengemis karena kasihan justru jadi mengasihani diri sendiri karena ternyata tak sekaya pengemis tersebut. Apalagi jika kita bertemu seorang pengemis yang tubuhnya masih segar. Terkadang di dalam hati kita bertanya, ‘kenapa ia tidak berusaha untuk bekerja apa saja agar bisa mendapatkan uang? Dia kan masih punya fisik yang kuat?’

Belum lagi orang-orang yang meminta sumbangan untuk masjid tanpa kita tahu di mana lokasi masjid tersebut dan kemana perginya uang yang telah kita sedekahkan sebenarnya.

Mengenai hal ini, kita bisa belajar dari salah satu kisah mengenai Usamah bin Zaid dan Rasulullah berikut ini.

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.

Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku,

« يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.”

Menurut Imam Nawawi, maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah bahwa kita hanya bisa menilai seseorang dari sesuatu yang keluar dari lisannya saja, sedangkan yang ada di dalam hatinya, kita tidak memiliki kemampuan untuk melihatnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.

Setiap Orang Akan Mendapatkan Balasan Sesuai Apa yang Diniatkan

Setiap amalan sekecil apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas oleh Allah meski hanya sebesar biji zarrah. Dan balasan yang kita dapatkan sesuai dengan niatan kita, betapapun orang yang telah kita beri malah menyalahgunakan pemberian kita, hal itu bukanlah urusan kita lagi.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Namun, para pengemis yang pura-pura miskin tentu akan semakin menjamur jika orang-orang terus-terusan tertipu olehnya dan dengan mudah memberinya uang tanpa ia harus bekerja. Maka, sebaiknya kita menyedekahkan uang kita pada yang dekat terlebih dulu. Misalnya tetangga yang kita tahu betul bagaimana kehidupannya, atau pada masjid terdekat di rumah kita. Wallahu ‘alaam bisshawab.

(Visited 210 times, 1 visits today)