9 Hal Dari Perceraian yang Dapat Merusak Psikis Anak

198 views Leave a comment
Perceraian dalam Islam : Agar Tak Melukai Anak dan Tak Menjadikannya Korban

Dailymoslem – Perceraian merupakan hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak, baik bagi pasangan suami-istri maupun bagi anak. Namun, jika jalan keluar tak ditemukan lagi. Jalan perceraian dengan terpaksa harus ditempuh.

Yang dikhawatirkan dari perceraian ini adalah psikis anak yang mungkin terganggu karena kondisi orangtuanya. Umumnya, anak menjadi korban keegoisan orangtua dalam perceraian. Dr. Phill mengungkapkan 9 hal dari perceraian yang dapat merusak psikis anak, berikut informasinya dilansir dari huffingtonpost.com.

Sabotase Anak, Menggunakannya Sebagai Jurus untuk Mendapatkan yang Diinginkan

Anak sangat mungkin digunakan orangtua yang bercerai untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dari mantan pasangannya, misalnya tunjangan atau hal lainnya.

Menggunakan Anak untuk Mempengaruhi Mantan Pasangan

Meski sudah bercerai, mungkin saja kedua belah pihak masih menyimpan perasaan tertentu entah itu cinta, benci atau cemburu. Hal yang bahaya adalah ketika anak digunakan sebagai alat untuk menggali informasi dan mempengaruhi kehidupan mantan pasangan agar kondisi menjadi sesuai yang diinginkan.

Menjadikan Anak Sebagai Pelarian Perasaan

Perasaan benci atau kesal terhadap pasangan yang masih tersisa bisa saja menjadi tercurahkan pada anak karena ada beberapa hal dari anak yang mengingatkan kepada pasangan. Misalnya jika anak bertanya kenapa Ayah dan Ibu tidak lagi tinggal bersama atau sifat tertentu yang membuat kita berucap, “Kamu jorok, kayak ayah kamu saja.”

Memaksa Anak untuk Memilih

Jangan pernah memaksa anak untuk memilih ikut siapa, karena hal tersebut dapat membuat anak merasa dirinya bukanlah milik siapapun, salahs satu dari anda. Bijaklah saat anda memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama.

Kumpul Keluarga yang Menjadi Ajang Bully Anak

Saat kumpul keluarga, terkadang orang dewasa tidak bisa mengontrol diri untuk bertanya atau membicarakan tentang perpisahan yang sudah terjadi. Meski anak hanya diam mendengarkan sambil bermain, sesuatu dari obrolan tersebut akan mempengaruhi psikisnya.

Memaksa Anak untuk Menjadi Teman yang Baik untuk Kita

Kitalah yang harus menjadi teman yang baik untuk anak. Anak tidak punya tanggung jawab apapun atas perceraian yang terjadi. Jangan ajak anak dalam kesedihan perceraian karena itu semua murni urusan anda dan pasangan.

Memperlakukan Anak Seperti Orang Dewasa

Dengan begitu banyak beban yang dirasakan setelah bercerai, terkadang orang lupa kalau anak-anak mereka bukanlah orang dewasa yang harus bisa mengerti dan memaklumi perceraian. Pahami cara pikir mereka sebagai anak-anak untuk menjelaskan perceraian pada anak.

“Manja” Terhadap Anak

Setelah bercerai, mungkin orang agak sedikit sensitif dan butuh perhatian. Tapi, anak bukanlah orang yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Terlalu Memanjakan Anak Karena Perasaan Bersalah

Beberapa orangtua mungkin sadar bahwa tindakannya tersebut dapat membuat anak merasa sedih. Tapi juga, memanjakannya secara berlebihan karena rasa bersalah sama saja dengan membentuk karakter yang buruk pada dirinya.

Nah, itulah 9 hal dari perceraian yang dapat mempengaruhi kondisi psikis anak. Pada dasarnya, anak merupakan amanah dari Allah yang perlu kita dampingi dan kita didik agar bisa menjadi orang yang berguna di kemudian hari kelak. Untuk mengemban tugas tersebut, tentu kita harus matang dan paham terlebih dulu atas setiap tanggung jawabnya.

(Visited 611 times, 1 visits today)