Apa yang Harus Dilakukan Jika Hutang Puasa Menumpuk Dari Tahun Ke Tahun?

13378 views
15 Kesalahan dalam Berjilbab yang Sering Terjadi Tanpa Disadari

Dailymoslem – Bagi perempuan, setiap tahun pasti ada hutang puasa yang harus dibayar dengan qadha karena haid. Qadha puasa dapat dilakukan secara berturut atau secara berselang-seling sepanjang bulan syawal hingga menjelang bulan Ramadhan di tahun berikutnya.

Lalu, bagaimana hukumnya jika hutang puasa tersebut telah menumpuk dari tahun ke tahun?

Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai qadha puasa yang ditunda hingga melewati Ramadhan berikutnya.

Beberapa ulama seperti Abu Hanifah dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa hutang puasa tersebut dapat dibayar dengan diqadha sesuai jumlahnya dan disertai dengan taubat kepada Allah untuk tidak mengulanginya lagi.

(Baca juga: 6 Persiapan Rohaniah untuk Sambut Ramadhan)

Sedangkan ulama lain seperti Imam Malik dan Imam Asy Syafi’I berpendapat bahwa qadha yang telah melewati Ramadhan berikutnya harus dibayar dengan puasa qadha yang disertai dengan fidyah atau memberi makan orang miskin. Pendapat ini disinyalir lebih kuat dari pendapat lainnya dan difatwakan oleh beberapa sahabat Nabi sepreti Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah pernah diajukan pertanyaan, “Apa hukum seseorang yang meninggalkan qodho’ puasa Ramadhan hingga masuk Ramadhan berikutnya dan dia tidak memiliki udzur untuk menunaikan qodho’ tersebut. Apakah cukup baginya bertaubat dan menunaikan qodho’ atau dia memiliki kewajiban kafaroh?”

Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Dia wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dia wajib memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai dengan qodho’ puasanya. Ukuran makanan untuk orang miskin adalah setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri tersebut (kurma, gandum, beras atau semacamnya) dan ukurannya adalah sekitar 1,5 kg sebagai ukuran pendekatan. Dan tidak ada kafaroh (tebusan) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Namun apabila dia menunda qodho’nya karena ada udzur seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui dan sulit untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqodho’ puasanya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, no. 15 hal. 347, Mawqi’ Al Ifta’)

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa bagi mereka yang menunda meng-qadha puasa hingga melewati bulan Ramadhan berikutnya maka harus bertaubat kepada Allah, membayar qadha tersebut sesuai jumlah puasa yang ditinggalkan dan juga membayar fidyah setiap hari kepada orang miskin sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkannya.

(Baca juga: Perbanyaklah Puasa Sunnah Di Bulan Sya’ban, Sebagaimana yang Dicontohkan Rasul)

Menunda puasa qadha bisa saja terjadi karena beberapa hal, misalnya karena hamil, menyusui atau sakit. Namun, yang ditakutkan adalah jika kita menunda untuk mengqadha puasa karena abai atau lalau untuk menuntaskan hutang puasa tersebut. Jika itu yang terjadi, maka kita harus sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah dan tidak mengulanginya lagi.

(Visited 47,461 times, 1 visits today)