Cerita Enes, Putri Dari Ibu Rumah Tangga Profesional Septi Peni Wulandani

11226 views 1 Comment

Kembali ke homeschooling, pertanyaan berikutnya yang paling sering dilontarkan adalah, “lalu, bagaimana dengan ujian anak-anak?” Jawabannya, tergantung pada tujuan masing-masing anak. Start with the goal in mind. Ada anak yang kelak ingin sekolah di luar negeri, maka, yang perlu dilakukan adalah mencari tahu persyaratan sekolah di Negara tersebut. Karena, setiap Negara memperlakukan persyaratan yang berbeda-beda.  Beberapa membutuhkan ijazah Indonesia, ada juga yang hanya meminta sertifikat TOEFL, SAT, IELTS, dsb. Kalau membutuhkan ijazah, berarti sang anak diarahkan untuk mengikuti ujian paket C, kalau tidak butuh ijazah, maka sang anak akan dipersiapkan untuk memenuhi persyaratan lainnya. Begitu pula jika tujuannya kuliah di dalam negeri, sekarang banyak universitas yang telah menerima ijazah paket C, salah satunya UI. Lain halnya jika, sang anak bercita-cita memiliki perusahaan, senang berdagang, dan menikmati setiap transaksi jual beli yang dilakukan. Maka, tidak perlu mengikuti ujian paket A, B, atau C, namun cukup dengan magang dari bisnis yang satu ke bisnis yang lainnya. Disinilah dibutuhkan sebuah komunitas untuk menambah wawasan orang tua dalam memfasilitasi sang anak menggapai cita-citanya. Di keluarga kami sendiri, ujian dilakukan dengan presentasi hasil pembelajaran selama sebulan di depan (minimal) orang tua.

Ingat, anakmu bukanlah milikmu, ia milik jamannya (Kahlil Gibran). Sehingga, orang tua disini bukan berfungsi sebagai “pendikte” yang mengatakan kemana anak akan melangkah. Orang tua akan lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu sang anak meraih mimpi-mimpinya, menyediakan tangga-tangga menuju lantai teratas dalam kehidupan. Meraih bahagia di dunia dan surga di akhirat (Aamiin). Jadi, orang tua tidak perlu tahu semua hal untuk dapat menjadi fasilitator bagi anaknya, yang perlu dilakukan hanyalah membangun network dan mencari channel sehingga bisa mengantarkan sang anak belajar langsung kepada ahlinya.

Selain pertanyaan, para penanya terkadang suka memberikan pernyataan, “aduh, rasanya berat sekali, ibu Septi (ibuku-red) kan enak wawasan tentang pendidikan anaknya sudah banyak, uang juga ada, belum lagi bu Septi tidak bekerja, jadi punya banyak waktu luang.” Ehem, mengingatkan kembali, ibu adalah seorang lulusan D3 dari jurusan gizi, jangankan tentang pendidikan anak, saat aku lahir pun ibu masih kebingungan bagaimana cara menggendong dan memandikanku. Semua kembali pada seberapa kuat tekad seorang ibu (dan ayah) untuk mendidik anak-anaknya. Ibuku percaya bahwa aku dan kedua adikku hanyalah seseorang yang dititipkan Allah kepada beliau dan bapak, sehingga tugas utama beliau sebagai seorang ibu adalah memastikan anak-anaknya dapat menjadi pribadi yang sukses dunia akhirat (ukuran sukses setiap keluarga beda-beda ya J).

Soal uang dan berbagai hal lainnya, ibuku percaya bahwa Allah telah mengatur rejeki masing-masing hambaNya, yang perlu dilakukan adalah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. For your information, di tahun 2004, rumah kami masih sangat kecil, buka pintu langsung sampai dapur dan kamar mandi. Atapnya bolong di beberapa bagian, membuat kami harus berlari-lari menadah bocor saat hujan tiba. Terkadang,kami makan bersama menggunakan satu piring besar berlaukkan ikan asin dan sayur saja, bahkan aku pernah memakan nasi kemarin hanya menggunakan garam. Jangankan terbayang bahwa aku akan bisa kuliah di luar negeri, untuk menyekolahkanku di dalam negeri saja bapak dan ibu harus berjuang sangat keras. Tapi kami bahagia, karena kami bisa selalu berkumpul bersama. Jadi, masih sangsikah kamu dengan rejeki yang telah diatur olehNya?

Untuk urusan ibu bekerja atau ibu rumah tangga, well, ibuku lebih ahli soal ini. Feel free to ask her on [email protected] 😉 Yang aku tahu hanyalah, baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja, harus mengambil peran penting dalam pendidikan anaknya. Untuk ibu bekerja, sempatkanlah membaca dongeng sebelum tidur kepada anak (sekitar sejak umur 0-12 tahun), temani anak jalan-jalan di hari libur, perbanyak interaksi dengan anak.  Believe me, you’ll miss your kids when they grow up and spend most of the time outside the house with their friends.

Meskipun sepertinya lebih banyak peranan ibu, namun tanpa dukungan dari sang ayah, homeschooling akan kurang lengkap. Karena anak akan tetap membutuhkan figure ayahnya, anak perempuan akan melihat sosok laki-laki yang akan ia idamkan dalam diri ayahnya, ayah harus menjadi cinta pertamanya. Sedangkan anak laki-laki belajar untuk menjadi imam keluarga yang baik dari sosok ayahnya, ayah adalah pahlawan pertamanya.

Terakhir, homeschooling ataupun sekolah (atau ada lagi yang lainnya) hanyalah sebuah sarana belajar. Keduanya baik, hanya orang tua perlu untuk mencari mana sarana yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak ada yang lebih mengenal anak daripada orang tuanya bukan?

Sekian sharing kali ini, next aku bakal ngebahas lebih lanjut tentang tahapan-tahapan dalam homeschooling.

Enes Kusuma

[email protected]

www.sukadukasisulung.blogspot.com

www.ibuprofesional.com

(Visited 32 times, 1 visits today)



[shareaholic app="recommendations" id="15559134"]