Cerita Enes, Putri Dari Ibu Rumah Tangga Profesional Septi Peni Wulandani

612 views Leave a comment
Cerita-Enes-Putri-Dari-Ibu-Rumah-Tangga-Profesional-Septi-Peni-Wulandani-730x400

Dailymoslem – Para Ibu yang sering nongkrong di forum-forum parenting pasti pernah dengar nama Septi Peni Wulandani. Ya, beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang menjadi pendidik sepenuhnya untuk ketiga anaknya dengan menerapkan sistem homeschooling. Sebuah langkah yang mungkin dirasa begitu berat oleh kebanyakan Ibu. Namun Ibu Septi berhasil membuktikannya dengan manghasilkan anak-anak yang sukses. Kedua anaknya bahkan berhasil kuliah sampai ke luar negeri! Berikut ini penuturan langsung dari sang putri, Enes Kusuma yang telah menyelesaikan kuliahnya di Singapura.


Halo semua, kali ini Enes mau share tentang lika-liku homeschooling. Karena cukup banyak juga yang tanya, jadi aku share disini aja ya 😉 semoga bermanfaat….

Saat itu tahun 2004, awal mula dari perjalanan homeschooling kami. Jangan harap kami memulai homeschooling dengan pengetahuan seabrek dan kesiapan mental yang luar biasa. Well, saat itu ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa yang memiliki tekad kuat untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku dan Ara? Kami berdua hanyalah seorang anak kecil ingusan berusia 8 dan 7 tahun yang memiliki ibu luar biasa.

Tujuan ibuku saat itu hanya satu, membuat suasana belajar menjadi se-menyenangkan mungkin. Soal-soal di buku pelajaran ibu pindahkan ke kertas-kertas besar, kemudian di tempelkan ke berbagai permainan di taman bermain. Aku dan Ara saat itu (hingga SMP sih, hehe) senang berpura-pura menjadi peserta “benteng Takeshi” (semacam TV show, dimana pesertanya akan melewati berbagai rintangan untuk mendapatkan hadiah), dengan berbekal kertas-kertas yang ibuku bawa, aku dan Ara membuat jalur rintangan lomba sendiri. Kertas kami tempelkan di perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dsb.

Di lain waktu, saat ibuku mengikuti tahsin di tempat temannya, kami (yang pasti selalu di ajak) akan mencari sendiri tempat yang asyik untuk belajar. Jika di rumah ibu A, berarti kami akan belajar di atas pohon jambu, kalau di rumah ibu B kami akan belajar di ayunan, dsb. Ibu tidak akan pernah alpa membawa kertas-kertas belajar kami, karena selalu ada tempat-tempat seru yang kami jadikan “kelas.” Lagipula motto homeschooling kami adalah, “berlantaikan bumi, beratapkan langit, bergurukan alam.”

Ketika pelajaran IPA, ibu sering mengajak kami untuk langsung praktek, setelah itu, kami baru mendalami tentang teorinya. Contohnya, ketika kami belajar tentang alat pernapasan pada hewan, ibu akan membeli ayam dan ikan yang masih utuh. Kemudian kami membedahnya dan mempelajari alat pernapasan serta pencernaannya.

Kalau ditanya, apakah ibuku tidak capek? Ya pastinya sangat capek, apalagi memiliki dua anak perempuan yang super hiperaktif (tidak terhitung berapa kali bajuku sobek karena tersangkut pagar atau pohon saat memanjat), belum lagi setiap hari pasti memikirkan tentang “apa yang akan dilakukan besok?” Tidak jarang pula aku mendapati ibu menangis melihat kelakuanku yang bikin mengelus dada. Lantas kenapa ibu lebih memilih untuk menerapkan homeschooling pada dua anaknya yang cantik, imut, dan luar bi(n)asa ini?

Semua bermula ketika ibu dilamar oleh bapak, yang sangat ganteng (?) dengan jaket kulit, celana sobek-sobek,  rambut gondrong se-bahu, dan kupluk kumal yang selalu dikenakan beliau untuk naik gunung. Bapak saat itu melamar ibu dengan persyaratan yang terkesan simple, namun diucapkan dengan serius, “Aku ingin anak-anakku kelak dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain, meskipun itu kakek dan neneknya sendiri. Kamu siap menjadi istriku atau tidak? Satu… Dua…. Tiga…. Empat….” Aku lupa menyebutkan bahwa kedua orang tuaku adalah aktifis pramuka, jadi jangan takjub dengan cara melamarnya yang terkesan seperti aba-aba berbaris. LOL.

Ibuku yang saat itu baru lulus D3 di jurusan gizi mendadak tergagap dan reflek langsung mengatakan, “IYA” (tanpa tahu bahwa beliau mulai detik itu, telah resmi masuk ke camp militer ala bapak, hehe). Dilepasnya oleh ibu SK pegawai Negeri yang saat itu baru saja beliau terima, ibu lebih memilih untuk menerima SK dari Allah SWT. menjadi pelindung dan pembimbing bagi anak-anaknya.

(Visited 32 times, 1 visits today)