Video Terawih Secepat Kilat Di Pesantren Mambaul Hikam Mantenan

1430 views

Terawih adalah shalat sunnah yang biasa dilakukan saat bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memang tidak mewajibkan shalat terawih ini, namun adalah sebuah kebaikan di bulan puasa saat kita menambah ibadah wajib dengan sunnah-sunnah yang lain.

Rakaat shalat terawih sendiri berbeda-beda disetiap mesjidnya. Sebagian masjid mengikuti Rasul yang hanya mengerjakan 11 rakaat shalat malam (termasuk shalat terawih), ada juga yang melakukannya 23 rakaat mengikuti khulafa Ar-Rasyid. Hal tersebut dilakukan untuk meringankan jamaah, karena saat Rasul shalat Sunnah 11 rakaat Beliau membaca surat-surat yang panjang sehingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

Adanya shalat terawih 23 rakaat tersebut dilakukan untuk meringankan Jemaah dengan mengganti surat-surat panjang dengan surat pendek namun ditambah jumlah rakaatnya.

Namun ada yang menarik di Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu, Blitar. Shalat tarawih disana hanya membutuhkan waktu 15 menit meski melakukannya 20 rakaat plus 3 rakaat witir seperti yang dilansir dari nu.or.id.

Durasi yang sangat singkat tersebut menarik perhatian banyak anak muda. Tidak hanya disekitar pesantren saja, pemuda yang berasal dari Kediri, Blitar dan Tulung juga. Jumlah jamaah yang mengikuti terawih di pesantren tersebut sangat fantastis yaitu lebih dari 5000 orang setiap malamnya. 75 persen dari jemaahnya adalah muda mudi.

Disinggung mengenai asal muasal kebiasaan terawih unik tersebut, KH Diya’uddin Az-ZamZami salah seorang pengasuh pesantren Mambaul Hikam, mengatakan bahwa terawih kilat tersebut sudah berlangsung secara turun menurun sejak pesantren itu didirikan oleh KH Abdul Ghofur sekitar 160 tahun lalu.

Menurut Gus Diya’ yang juga anggota Jamiyah Ahlith thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyah ( Jatman) itu, shalat secepat itu bisa dilakukan karena sang imam Tarawih hanya mengerjakan doa yang wajib-wajib misalnya niat, takbirotul ihram, baca Fatihah plus ayat pendek Al-Qur’an hingga salam.

“Doa ruku’, kita singkat cukup ‘Subhanallah. Lainnya hanya Allah-Allah saja.Tahiyat akhir juga hanya sampai bacaan shalawat untuk nabi Muhammad kemudian salam,” tandas Gus Diya’ yang juga salah seorang Mursyid Thoriqoh Naqshobandiyah Kholidiyah.

Sementara Wakil Sekretaris PP LDNU H Syaifullah Amin mengatakan, di sini terjadi perbedaan keberkahan waktu. Artinya cepat atau lambat tidak mengurangi kekhusyu’an orang yang ibadah.

“Sebagian orang memang diberikan kelebihan oleh Allah dalam melipat waktu,” kata H Amin.

(Visited 5,068 times, 1 visits today)



RELATED ITEMS