Shinta Ratri, Ketua Ponpes Khusus Waria Sebut Akan Susun Kitab Fiqih Khusus Waria

135 views Leave a comment
Shinta Ratri, Ketua Ponpes Khusus Waria Sebut Akan Susun Kitab Fiqih Khusus Waria

Dailymoslem – Sebagai kaum yang berusaha melawan kodrat, kaum waria yang tergabung di Pondok Pesantren (ponpes) Waria Al-Fatah di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta, rupanya masih memiliki keinginan untuk diakui dalam agama.

Setelah mendirikan pondok pesantren khusus waria, mereka kini berencana menyusun sebuah kitab fiqih khusus untuk Waria.

“Semoga kitab fiqh waria itu bisa dipakai oleh waria muslim di seluruh dunia,” ujar Shinta Ratri, ketua Ponpes Al-Fatah, dilansir dari laman Panjimas.com.

Menyadari bahwa dalam hukum Islam sendiri tidak ada ajaran-ajaran tertentu untuk kaum transgender, Shinta mengaku akan mengkaji kitab Al-Hikam yang dirasa tidak membedakan gender. “Jadi kami mengkaji kitab Fikih yang tidak membedakan gender, misalnya kitab al-Hikam,” kata Shinta, Selasa (2/2/2016).

Kitab Al-Hikam sendiri bukanlah kitab fiqih, melainkan kitab tasawuf yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athailah As Sakandari. Selain itu, Shinta juga mengaku akan meminta pertimbangan dari sejumlah ulama sepuh di Jawa dalam penyusunan kitab fiqih ini. “Nanti ada sepuluh ulama yang akan kami mintai pendapat,” terangnya.

Saat ini, terdapat kurang lebih 223 waria yang ada di DIY di bawah lembaga advokasi waria Ikatan Waria Yogya (Iwayo). Berbagai upayapun dilakukan oleh komunitas waria ini untuk mendapatkan hak-hak tertentu di masyarakat, salah satunya dengan membentuk lembaga keagamaan berupa Pondok Pesantren khusus waria bernama Al-Fatah ini.

“Kita mengawali ini dengan merekrut anggota baru. Ada 20 waria yang mau bergabung,” jelas Shinta yang sehari-hari berprofesi sebagai pengrajin.

Meski begitu, Shinta dan kelompoknya mengaku tidak terlalu “ngoyo” untuk mendapatkan pengakuan dari negara perihal hubungan mereka dengan sesama jenis melalui ikatan pernikahan. Menurutnya, hubungan tersebut bisa dijalani tanpa harus mendapat pengakuan negara.

“Diam-diam dinikmati hubungan itu, tak perlu heboh-heboh semua orang harus tahu. Kami sendiri tidak antusias untuk menikah, tidak getol untuk pelegalan bentuk pernikahan, sudah cukup menjalin hubungan rumah tangga dengan komitmen dengan disaksikan keluarga, saudara, dan penduduk sekitar, bukan dengan pelegalan yang membuat heboh,” tutur Shinta.

Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa Shinta dan rekan-rekan sesama waria lainnya memang menjalin hubungan dengan sesama jenis, meski mereka tidak mengharapkan pemerintah dapat mengakui hubungan mereka dengan ikatan pernikahan yang resmi.

Namun, jika Shinta dan rekan-rekan akan serius menyusun kitab fiqih khusus untuk waria, tentu dalam kitab tersebut juga akan ada bab mengenai pernikahan, mengingat pernikahan merupakan salah satu elemen penting dalam ajaran Islam sebagai penyempurna agama. Walallahu ‘alaam, kitab fiqih seperti apa yang disebut Shinta akan disusunnya tersebut.

(Visited 136 times, 1 visits today)