Perang Ahli Bahasa Terkait Perkataan Ahok Yang Menistakan Al-Quran

1369 views Leave a comment
Perang Ahli Bahasa Terkait Perkataan Ahok Yang Menistakan Al-Quran

Dailymoslem – Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih dalam tahap penyelidikan oleh kepolisian. Ahli bahasa dan ahli agama pun dimintai keterangan terkait ucapan Ahok dalam video yang diambil di Kepulauan Seribu itu.

Yeyen Maryani, Peneliti Bahasa dari Badan Bahasa Kemendikbud menilai bahwa kata-kata ahok tersebut tidak menjurus pada penistaan agama. Karena secara kaidah kebahasaan, kata “dibohongi” merupakan kalimat pasif. Tentunya hal ini menimbulkan banyak komentar dari masyarakat.

“Jadi dibohongi itu kan kalimat pasif. Sebetulnya ada subjeknya yang dihilangkan. Di dalam konteks sebelumnya itu adalah bapak ibu gitu ya. Bapak ibu dibohongin itu sebagai predikatnya, pakai surat itu adalah keterangan,” jelas Yeyen.

“Dibohonginnya tidak mengacu pada ayatnya sebetulnya, tapi ayat itu dipakai sebagai alat untuk membohongi. Permasalahannya apakah yang membuat pernyataan itu, kan tidak menyatakan bahwa surat itu bohong. Tetapi menggunakan alat dengan ayat itu. Jadi memakai ayat itu sebagai alat membohongi orang, kan begitu maksud sintaksisnya,” lanjutnya.

Muhammad Subarkah dalam sebuah artikel republika, mengomentari bahwa meskipun kata pasif namun secara konteks Ahok menyebutkan bahwa Al-Quran merupakan alat untuk melakukan kebohongan.

“Memang secara bahasa apa yang Ahok katakan adalah kalimat pasif dengan kata “dibohongi”. Kata ‘dibohongi’ dalam struktur kalimat ini menjadi predikat.Sedangkan subjek secara langsung dari kalimat ini tak ada atau hilang. Tapi jika mengacu pada kalimat sebelumnya, yakni kata-kata, ‘jangan percaya orang’, maka subjek dari ucapan Ahok ini adalah si ‘orang’ yang Ahok minta jangan dipercaya. Sedangkan bagian ‘pakai surat Al Maidah ayat 51’ adalah keterangan alat,” tulis Subarkah.

“Jadi, kalau diubah strukturnya menjadi kalimat aktif perkataan Ahok itu bisa berbunyi, “Orang membohongi anda memakai surat Al Maidah ayat 51.” Dengan kalimat seperti ini, banyak pendukung Ahok percaya diri bahwa Ahok tidak menistakan agama. Sebab yang berbohong adalah orang.”

“fakta bahasa pun membuktikan perkataan Ahok itu berarti Al Maidah ayat 51 adalah sebuah alat untuk berbohong. Jadi, logika bahasa dari pernyataan Ahok berarti ayat Quran bisa menunjang orang-orang untuk berbohong,” paparnya.

Selain Muhammad Subarkah, Totong Sih Ariwanto, mantan dosen  Bahasa Indonesia di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Ho Chi Minh City, Vietnam menulis surat terbuka terkait bedah bahasa Ahok. Ia menyebutkan bahwa makna yang tersirat sangatlah jelas yaitu Al-Maidah dipakai sebagai alat untuk berbohong.

“Yang tersirat dalam ucapan BTP adalah: Al Maidah dipakai sebagai alat untuk berbohong. Sangat jelas. Baik dalam Bentuk Aktif maupun Pasif, makna kalimat tidak akan pernah berubah , karena Pesan utama dalam sebuah kalimat terlihat pada PREDIKAT. Hanya saja ketika sebuah kalimat tidak ada Obyek (Kalimat Intransitif) tentu tidak bisa diubah menjadi bentuk aktif.”

Surat yang dilayangkan melalui status facebooknya tersebut sampai saat ini telah mendapat ribuan respon dari netizen.

Isi surat terbuka Totong Sih Ariwanto bisa dilihat tautan ini.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)