Pandangan Islam Tentang Perempuan yang Menambahkan Nama Belakang Suami Pada Namanya Setelah Menikah

638 views
mr-and-mrs

Dailymoslem – Budaya membubuhkan nama belakang suami di nama istri setelah menikah merupakan budaya yang datang dari negara barat. Meski begitu, baru-baru ini banyak perempuan muslim di Indonesia yang turut melanggengkan budaya satu ini. Beberapa orang mungkin merasa keren setelah membubuhkan nama belakang suami pada namanya.

Lalu, apakah Islam juga memiliki budaya yang serupa? Mengingat dalam Islam, kan, lelaki dianggap sebagai imam atau pemimpin.

Seperti dikutip dari islamcity.com, dalam Islam laki-laki memang ditakdirkan sebagai pemimpin atau imam. Namun, laki-laki maupun perempuan memiliki derajat yang setara dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, perempuan tetap merepresentasi dirinya sendiri setelah menikah, tetap berdiri sendiri sebagai anggota dari keluarga ayahnya. Ia juga bisa kembali kepada keluarganya lagi andaikata terjadi perceraian.

(Baca juga: Dianggap Sah Sebuah Talak Jika Syarat-Syarat Ini Terpenuhi)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu […]” (Al-Ahzab: 5)

Selain itu, dengan mengganti nama belakang menjadi nama suami, tanpa sadar kita juga telah mengaku-ngaku sebagai keturunan orang lain. Keturunan siapa? Ya, keturunan suami atau keluarga suami. Rasulullah SAW sudah mengingatkan mengenai hal ini:

“Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Ahmad; shahih)

Sedangkan menurut penjelasan dari Dr. Muzammil H. Siddiqi yang dilansir dari onislam.net, penggunaan nama suami boleh saja digunakan untuk mengenali seorang perempuan. Misalnya istri-istri nabi selalu dipanggil sebagai ‘istri Rasulullah.’ Dalam budaya kita, hal ini mungkin seperti Bu Joko yang dipanggil Bu Joko karena punya suami bernama Pak Joko. Namun, Bu Joko tidak mengganti nama di KTP dan semua dokumen menjadi nama Joko.

Nah, itu baru pendapat Islam, bagaimana dengan budaya di Indonesia sendiri?

Di Indonesia sendiri tidak dikenal adanya budaya menambahkan nama belakang suami pada nama istri setelah menikah. Bahkan, penggunaan nama keluarga sebagai nama belakang yang turun temurun pun biasanya hanya dimiliki mereka yang berasal dari kalangan tertentu, terutama bangsawan. Para bangsawan juga tidak menambahkan nama belakang suami pada nama seorang perempuan setelah ia menikah. Yang ada hanya nama gelar kebangsawanan dan nama belakang keluarga, tapi tidak membubuhkan nama belakang suami ke nama istri setelah menikah.

Jadi, sudah barang tentu budaya membubuhkan nama belakang suami setelah menikah ini bukan milik budaya Indonesia apalagi Islam.

Kalau budaya Islam bukan dan budaya Indonesia pun bukan, apa namanya kalau bukan ikut-ikutan budaya barat?

Ironisnya lagi, di negara barat Islam dikenal sebagai agama yang radikal, penuh terorisme dan menekan perempuan. Tak jarang perempuan muslim dipandang sebagai makhluk yang menderita karena harus menutupi diri dengan hijab, harus menjalani hidup di bawah tekanan laki-laki, dan masih banyak anggapan miring lainnya.

(Baca juga: Perjuangan Para Muslimah Rusia Perbaiki Citra Islam yang Selalu Dianggap Teroris)

Padahal, Islam jelas memiliki aturan yang justru menyamakan derajat perempuan dan laki-laki, bahkan juga melindungi perempuan dalam beberapa aspek.

Jadi, masih mau ikut-ikutan budaya barat?

(Visited 1,295 times, 1 visits today)