Mengapa Di Indonesia Kadang Ada Perbedaan Antara Waktu Awal dan Akhir Bulan Ramadhan?

561 views
PANTAU HILAL di MARINA 1 ( indra )

Dailymoslem – Hanya tinggal mengitung hari, Ramadhan akan segera kembali. Saat Ramadhan tiba, semua umat muslim sudah tentu harus melaksanakan ibadah puasa. Namun, ada yang unik dari Ramadhan di Indonesia. Meskipun sama-sama muslim, namun waktu memulai dan mengakhiri puasa kadangkala berbeda.

Bahkan ada satu kejadian dimana lebaran diundur satu hari karena katanya hilal tidak terlihat. Kejadian tersebut membuat opor ayam dan ketupat spesial lebaran menjadi menu makan sahur. Sebenarnya apasih yang menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan?

Islam sebagai agama yang paling sempurna telah memberikan panduan mengenai bagaimana cara menentukan awal bulan Ramadhan, yaitu dengan cara:

Ru’yatul hilal

Cara ini adalah dengan melihat hilal dengan mata. Hilal sendiri adalah fase paling awal dari kemunculan bulan. Penampakan hilal sendiri adalah berupa garis tipis yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun, tidak menutup kemungkinan juga untuk menggunakan alat seperti teropong atau alat bantu lainnya untuk melihat keberadaan hilal

Menggenapkan bulan Sya’ban

Jika hilal tidak terlihat akibat cuaca ataupun hal lainnya yang membuat hilal tak bisa dilihat, maka bulan sya’ban digenapkan menjadi 30  hari.

Kedua cara tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Berpuasalah karena melihatnya (hilal), berbukalah karena melihatnya (hilal), jika penglihatan kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban jadi 30 hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jika memang ada aturan yang jelas mengenai dimulainya bulan Ramadhan, lalu mengapa di Indonesia masih sering berbeda dalam memutuskan awal dan akhir bulan Ramadhan? Salah satu faktornya adalah, adanya pendapat dari berbagai golongan yang berbeda. Karena daerah Indonesia ini luas, sehingga memungkinkan di salah satu daerah hilal terlihat, namun di daerah lain tidak terlihat sehingga menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Lalu jika seperti itu apa yang harus kita lakukan? Dalam salah satu riwayat Abu Dawud, diceritakan bahwa pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Beliau juga menjabat sebagai kepala pemerintahan. Sahabat Ibnu Umar  radhiyallahu Anhu berkata:

Orang-orang melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bahwa aku melihatnya, Lalu beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud)

Dari hadits diatas menunjukan bahwa urusan penetapan puasa diserahkan kepada pemerintah bukan diserahkan kepada masing-masing individu atau kelompok masyarakat. Islam adalah agama yang mengajarkan untuk bersatu. Selain itu, kita juga seharusnya taat kepada pihak yang lebih berkenan mengurus dan mengatur Negara (pemerintah), selama ada dalam hal yang benar menurut agama. Dengan mematuhi pemerintah, insya Allah persatuan umat Islam akan tercapai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta ulil amri kalian.” (Q.S An-Nisa: 59)

Jika masyarakat tidak mentaati seseorang yang telah dipercayai untuk memerintah, maka persatuan tidak akan pernah tercapai. Dalam hal ini, Rasulullah pun bersabda:

Dengar dan taatlah (kepada penguasa). Karena yang jadi tanggungan kalian adalah yang wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka ada yang wajib bagi mereka.” (HR. Muslim)

Dengan melihat hal ini, maka jika ada perbedaan pendapat selayaknya di serahkan pada pemerintah. Toh, mereka tentunya memiliki pengetahuan yang lebih untuk menangani hal ini. Semoga, pemerintah disana selalu diberikan petunjuk ke arah yang benar. Amin.

(Visited 367 times, 1 visits today)