Mana Yang Lebih Baik, Terawih 11 Atau 23 Rakaat?

889 views
tarawih

DailymoslemAlhamdulillah wa Syukurillah, akhirnya kita kembali diundang untuk menikmati Ramadhan yang penuh barakah ini. Salah satu ibadah khas Ramadhan – selain berpuasa tentunya – adalah shalat terawih. Biasanya, kita berbondong-bondong pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat isya berjamaah yang langsung dilanjutkan dengan shalat tarawih.

Jumlah rakaat tarawih sendiri berbeda di setiap masjid. Ada yang melakukannya dengan 23 rakaat dan ada juga yang hanya 11 rakaat saja. Namun sebenarnya, berapa rakaat seharusnya shalat terawih itu? Apakah 23 atau 11 saja?

(baca juga: Makna Sholat Tarawih dari Malam Pertama Hingga Malam Ke-30)

 Shalat terawih Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

 

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,

 “Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun tidak menyebutkan bahwa shalat malam (terawih) pada bulan Ramadhan adalah sebuah hal yang wajib. Beliau pernah shalat bersama para sahabatnya pada malam bulan Ramadhan sebanyak 8 rakaat lalu ditambah dengan witir. Namun pada malam berikutnya Rasulullah tidak datang karena khawatir, shalat tersebut dijadikan sebuah kewajiban.

Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. At-Thabrani)

(baca juga: MasyaAllah, Inilah Tiga Waktu Mustajab Doa Saat Ramadhan)

Shalat terawih lebih dari 11 Rakaat

 

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,

Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Shalat tarawih dengan jumlah rakaat 23 pernah dilakukan oleh Umar Radhiyallahu Anhu dan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, terawih dengan jumlah 23 bukanlah sebuah hal yang bid’ah. Lebih dari itu, shalat terawih 23 rakaat adalah Sunnah Khulafa Ar- Rasyidin (jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam konsultasi syariah)

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. … Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

 

 Manakah yang terbaik?

 

 Kedua rakaat tersebut sama-sama baik selama dilakukan dengan niat yang satu yaitu untuk Allah Subhanahu wa Ta’alla. Adanya terawih 23 rakaat tersebut karena ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at.

Namun, pada zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Jadi, yang terbaik adalah terawih dengan bacaan yang panjang dan dikerjakan dengan santai serta tidak tergesa-gesa. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Kalaupun dikerjakan sebanyak 23 rakaat mengikuti inisiatif Umar, maka sama-sama baik karena niatnya agar orang-orang tidak terlalu berat mengerjakannya. Sehingga dilakukan dengan bacaan-bacaan ringan namun tidak tergesa-gesa. Oleh karena itu sangat tidak dibenarkan melakukan terawih layaknya seperti ayam yang mencari makan dan bacaaan alfatihah hanya sekali napas.

 

Bagaimana jika kita ingin mengerjakan 11 Rakaat namun ternyata imam mengerjakan 23?

 

Karena kedua rakaat ini sama-sama baik, maka yang harus kita lakukan adalah mengikuti imam meskipun jumlah rakaatnya 23.

Yang sesuai dengan sunnah adalah tetap mengikuti imam meski ia shalat 23 rakaat. Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. At Tirmidzi)

Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya” (HR. Ahmad, no. 20474)

Maka yang paling afdhal bagi seorang ma’mum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik.

 

 

 

(Visited 1,281 times, 1 visits today)