Isra Mi’raj Perjalanan Nabi Ke Langit Benarkah?

1343 views

Dailymoslem – Hari ini bertepatan dengan pristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Besar kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Isra dan Mi’raj. Isra secara istilah diartikan sebagai berjalan di malam hari, sedangkan Mi’raj adalah alat (tangga) untuk naik. Isra sendiri adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina yang terjadi di malam hari. Mi’raj adalah perjalanan lanjutan Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsha ke langit sampai di Sidratul Muntaha dan langit tertinggi tempat Nabi bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kejadian luar biasa ini diabadikan dalam Al-Quran.

Maha Suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidl Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Q.S Al-Isra:1)

Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S An-Najm: 13-18)

Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa Isra Mi’raj ini mungkin tidak dapat dipercaya oleh sebagian orang karena kejadiannya yang seolah tak masuk akal. Bahkan kaum muslim sendiri memiliki beberapa pandangan tentang perjalanan Nabi Muhammad ini. Ada sebagian yang mengatakan bahwa perjalanan ini hanya perjalanan ruhiyah saja ada juga yang mengatakan bahwa perjalanan Isra Mi’raj benar-benar perjalan fisik.

Hal tersebut bisa dilihat dari penggunakan kata “Yaro” pada Surat An-Najm ayat 13 yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida” yang berarti menyaksikan namun tak selalu melihat secara langsung.

Sebenarnya, masalah apakah Isra Mi’raj adalah perjalanan ruhyah atau benar-benar fisiki mungkin bukan lagi menjadi soal. Selama kita meyakininya. Keyakinan kan bukan berasal dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepala kita, keyakinan terjadi saat kita berusaha menerimanya dengan ikhlas. Bumi, langit dan segala yang ada di alam semesta ini saja adalah mudah bagi Allah, apalagi perjalanan Isra dan mi’raj?

 

 

(Visited 516 times, 1 visits today)



[shareaholic app="recommendations" id="15559134"]