Heboh Kerudung Halal Zoya, Sertifikasi Halal Non-Pangan Ternyata Sudah Mulai Marak Sejak Tiga Tahun Lalu

110 views Leave a comment
Heboh Kerudung Halal Zoya, Sertifikasi Halal Non-Pangan Ternyata Sudah Mulai Marak Sejak Tiga Tahun Lalu

Dailymoslem – Saat ini, netizen tengah dihebohkan dengan brand hijab Zoya yang mengumumkan bahwa dirinya telah mengantongi sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI untuk produk pakaian dan hijab yang dikeluarkannya.

Zoya menuai banyak kritikan pedas dari netizen perihal sertifikasi kain halal ini. Pasalnya, hal ini terkesan menyulitkan masyarakat untuk memilih pakaian untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi, tidak semua orang memiliki perekonomian yang cukup untuk memilih brand sekelas zoya untuk pakaian sehari-hari mereka.

“Kerudung halal adalah kerudung yang menggunakan fabric/kain halal dalam arti kain tersebut pada saat proses pencucian menggunakan bahan textile (emulsifier) dari bahan alami/ tumbuhan sedangkan untuk kain non halal menggunakan bahan textile (emulsifier) dari bahan non halal (gelatin babi),” papar Agung Hidayatullah, General Marketing Manager Shafira Corporation, perusahaan yang membawahi brand Zoya Fashion.

Mengenai hal ini, MUI yang juga ikut-ikutan mendapat kritikan pedas karena isu ini mengklarifikasi dikeluarkannya sertifikat halal untuk produk kain. Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, SH., mengakui bahwa belum ada kewajiban untuk semua produk konsumsi Indonesia, termasuk produk pangan, untuk mendapatkan sertifikat halal. Jadi, pemberian sertifikasi halal ini berdasarkan permintaan produsen dan tuntutan dari konsumen sendiri.

“Seiring dengan tuntutan konsumen maka tidak hanya makanan-minuman saja yang minta sertifikat halal tapi juga produk gunaan (selain pangan) banyak yang menghasilkan sertifikat halal,” ungkap Farid, dilansir dari Wolipop, Rabu (04/02).

Farid juga memaparkan bahwa permintaan sertifikasi untuk produk halal non-pangan juga sudah marak sejak tiga tahun lalu. Tak hanya kerudung, ada juga produk non-pangan lainnya yang mengajukan permintaan sertifikasi halal pada MUI, seperti produk sepatu, ikat pinggang, tisu, kertas, hingga perusahaan jasa.

Para produsen mulai memerhatikan kehalalan produknya setelah mencuatnya isu sepatu berbahan kulit babi.

“Konsumen hanya ingin memastikan bahwa meski tidak dimakan bahan-bahannya tidak terkontaminasi najis dan produsen menanggapi itu sebagai kewajiban sesuai syariat Islam,” tuturnya.

(Visited 130 times, 1 visits today)