Hati-Hati Hal Ini Merupakan Kekeliruan Yang Seringkali Dilakukan Di Bulan Ramadhan

109 views Leave a comment
Hati-Hati Hal Ini Merupakan Kekeliruan Yang Seringkali Dilakukan Di Bulan Ramadhan

Dailymoslem – Ramadhan memang menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di dunia. Bulan yang disebutkan penuh dengan barakah ini juga menjadi bulan dimana pahala dilipat gandakan. Dengan begitu, bulan Ramadhan menjadi raja bulan yang selalu dirayakan kehadirannya.

Sayangnya, ada beberapa hal yang keliru yang dilakukan di bulan Ramadhan. Awalnya mungkin dilakukan karena budaya setempat, namun lama kelamaan di anggap sebagai sebuah keharusan. Nah, berikut ini adalah amalan-amalan keliru yang seringkali dilakukan saat bulan Ramadhan.

Mandi besar yang dikhususkan untuk menyambut bulan Ramadhan

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  yang seluruh tindakannya merupakan tuntunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pernah mengharuskan mandi besar dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Namun, pernah satu ketika beliau mandi besar karena junub pada dini hari sebelum berpuasa.

Dari Ummu Salamah dan Aisyah Radhiallahu ‘Anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk waktu subuh dalam kondisi junub karena istrinya (hubungan badan), beliau-pun mandi sebelum shalat subuh, kemudian beliau puasa di hari itu. (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Husain Salim Asad Ad-Darani)

Dengan demikian, kebiasaan mandi besar yang dikhususkan untuk menyambut bulan Ramadhan merupakan hal yang keliru. Apalagi jika dilakukan di sebuah pemandian besar dan bercampur baur laki-laki dan perempuan.

Mengkhususkan ziarah kubur sebelum bulan Ramadhan

Tradisi berziarah kubur ini biasanya dilakukan dengan mengunjungi makam dari tokoh-tokoh agama, namun ada juga yang hanya mengunjungi makam orang tua atau kerabat saja. Sebenarnya berziarah merupakan hal yang baik karena dapat mengingatkan seorang muslim pada kematian. Sayangnya hal ini menjadi keliru ketika dikhususkan dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Apalagi jika dalam pelaksanaanya pezirah menggunakan beberapa hal sebagai simbol-simbol tertentu. Seperti tiga jenis bunga atau membakar kemenyan.

Saling meminta maaf

Meminta dan memberi maaf memang merupakan tindakan terpuji yang diperbolehkan oleh agama Islam, namun meminta maaf yang dikhususkan menjelang puasa dengan niat mendapatkan Ramadhan yang sempurna, nampaknya menjadi hal yang keliru. Dalam Islam sendiri, Allah menyeru hamba-hambanya agar betaubat dan meminta maaf kepada sesama manusia setelah melakukan sebuah dosa atau kesalahan.

Dengan demikian tak perlu menunggu momen Ramadhan untuk meminta maaf. Lakukan secepatnya, karena lebih cepat lebih baik dan bila ditunda-tunda bisa jadi kita lupa.

Berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan tiba

Ada sebuah hadits yang melarang puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan tiba, kecuali bagi mereka yang memang terbiasa melakukan puasa sunnah seperti senin-kamis atau yang sedang menjalankan nazar dan juga kafaroh.

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.”(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Hal ini dilakukan karena ingin hati-hati dalam penentuan awal Ramadhan, sehingga antara puasa sunnah dan Ramadhan dapat diketahui.

Menetapkan awal Ramadhan dengan hisab

Mahzab yang menetapkan awal Ramadhan dengan hisab dikatakan sebagai mahzab yang bathil oleh Ibnu Bazizah. Dengan demikian syariat melarang hisab atau nujum karena ilmu tersebut hanya sekedar perkiraan. Sehingga penentuan awal Ramadhan sudah sebaiknya dilakukan dengan cara ru’yah.

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah (buta huruf). Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30). (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080)

Mengucapkan niat puasa dengan keras

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai panutan umat Muslim hingga akhir zaman, tidak pernah mencontohkan untuk mengeraskan bacaan niat. Pun dengan sahabat-sahabat yang setelah Rasulullah wafat menjadi khalifah dan memimpin ummat Muslim kala itu.

Ulama besar mahzab Syafi’i mengatakan,

Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1/268.)

Hal ini pun senada dengan apa yang diucapkan oleh ulama Syafi’iyah yang lain yaitu Asy Syarbini rahimahullah, beliau berkata,

Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh.” (Mughnil Muhtaj, 1/620.)

Kedua pernyataan diatas pun kembali diperkuat melalui perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah,

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/262.)

Pulang terlebih dahulu sebelum Imam selesai Shalat malam

Beberapa orang memilih tidak menyelesaikan witir bersama imam dikarenakan ingin memiliki waktu yang lebih lama untuk berdoa. Namun, hal tersebut adalah sesuatu yang keliru dan sebaiknya tidak dilakukan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mencontohkan untuk shalat dengan imam hingga selesai. Beliau bersabda,

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

Memperingati Nuzulul Al-Quran dengan pesta

Saat ini umat Muslim memperingati turunnya Al-Quran secara utuh dari Lauhul Mahfudz di langit ketujuh, ke baitul izzah (langit dunia) atau bisa disebut dengan Nuzulul Al-quran dengan acara makan besar atau pesta rakyat yang meriah. Padahal, Rasulullah tidak pernah merayakan Nuzulul Al-Quran dengan hal-hal duniawi seperti itu.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan tentang apa yang dilakukan Rasulullah untuk memperingati Nuzulul Al-Quran, belaiu berkata,

“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)

Seorang sahabat Rasulullah, Huzaifah radhiallahu ‘anhu pun menceritakan bahwa,

“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. …. Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Bgitulah cara Rasulullah memperingati turunnya Al-Quran. Bukan dengan mengadakan pesta apalagi nyanyi-nyanyian, beliau hanya membaca Al-Quran dengan khusyu dan penuh penghayatan.

Membayar zakat fitrah dengan uang

Saat ini banyak orang yang memilih membayar zakat fitrah dengan sejumlah uang, mereka mengatakan bahwa membayar dengan uang lebih mudah dan efektif. Padahal Rasulullah, mencontohkan membayar zakat fitrah dengan beras.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammembayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum– akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)

 

(Visited 207 times, 1 visits today)