Berbahayakah Pembalut yang Mengandung Klorin?

495 views
pembalut

Beberapa hari ini publik ramai mendiskusikan hasil temuan YLKI tentang pembalut yang mengandung zat berbahaya klorin. Setidaknya ada 9 merk pembalut dan 7 merk pantyliner yang diketahui mengandung klorin.

Temuan ini tentunya mencipatakan polemik di kalangan masyarakat. Pasalnya, pembalut telah mejadi bagian hidupa sehari-hari para wanita. Klorin sendiri, zat kimia yang didapuk berbahaya juga sudah sering kita temukan sebagai disinfektan, zat pembersih air di kolam renang serta pemutih baju.

Peneliti YLKI, Arum Dinta menjelaskan bahwa klorin berbahaya bagi kesehatan reproduksi perempuan. Efek yang bisa ditimbulkan oleh klorin adalah keputihan, gatal-gatal, dan iritasi hingga memicu kanker. Sayangnya pernyataan ini tidak ditunjang oleh jurnal ilmiah yang mendukung.

Lalu benarkah pembalut mengandung klorin berbahaya?

Dra. Maura Linda Sitanggang  Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu cemas karena pembalut yang telah memiliki izin edar tentu aman digunakan.

Kandungan klorin di dalam pembalut bukanlah parameter keamaan penggunaan pembalut. Bahkan  kriteria tersebut tidak ditemukan pada standardisasi SNI maupun FDA. Menteri Kesehatan Nila Moeloek juga menegaskan, kadar klorin pada pembalut wanita yang ditemukan YLKI, yaitu 5-55 ppm (part per million), masih dalam ambang batas aman.

Selain itu, hal ini memicu professor farmakologi klinik  UGM, Prof. Zullies Ikawati ikut berkomentar. Prof. Zullies menjelaskan bahwa klorin yang ditemukan pada pembalut merupakan sisa dari  proses pemutihan bubur kertas yang menjadi bahan pembuat pembalut. Hal yang sama juga mungkin terjadi pada baju yang baru saja kita rendam dengan pemutih. Tentu setelah merendam, sebagian kandungan klorin akan tersisa pada baju. Namun kenyataannya, belum ada laporan masif  bahwa sisa klorin pada baju menimbulkan masalah dan iritasi pada kulit. Iritasi kulit akibat klorin ini hanya akan terjadi pada orang yang sensitif pada zat tersebut. Hal ini bersifat sangat individual dan tidak dapat digeneralisir. Sensitivitas semacam ini  dalam dunia kedokteran disebut sebagai dermatitis kontak (iritan atau alergi).

Prof Zullies menambahkan bahwa memang sebelumnya pernah ditemukan pembalut yang mengandung zat berbahaya, yaitu dioksin. Sementara untuk klorin, baru berbahaya bagi tubuh jika ditemukan di dalam produk makanan atau minuman, atau terhirup lewat pernapasan.

Sumber: Sehatmagz

(Visited 280 times, 1 visits today)