Apakah Membaca Al-Quran Dengan Lagam Jawa Seperti Yang Dilakukan Yasser Arafat Diperbolehkan?

948 views

Dailymoslem – Pembacaan Ayat Suci Al-Quran yang dilakukan dalam lagam jawa oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Yasser Arafat menuai kontroversi di masyarakat Indonesia.

Pembacaan Al-Quran dengan lagam jawa ini adalah pembuka dari acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad di Istana Negara, Jakarta. Banyak sekali masyarakat yang menilai bahwa hal tersebut melanggar tata cara membaca Al-Quran karena banyak sekali kesalahan dalam tajwid dan sengaja dipanjang-panjangkan.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin mengaku bahwa tilawah dengan lagam Jawa adalah idenya. Ia mengatakan bahwa tujuan membaca Al-Quran dengan lagam jawa adalah menjaga tradisi dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air.

Dilansir dari konsultasisyariah, Lagam yang dipakai oleh Yasser Arafat adalah macapat, khususnya tembang mijil. Ini merupakan salah satu jenis irama lagu bagi masyarakat jawa. Dengan kata lain lagam tersebut sama saja dengan irama dangdut, jazz, rock dan genre musik lainnya. namun. Karena irama ini lebih terkait dengan kedaerahan menjadikan penyebarannya tidak luas dibandingkan dengan yang lainnya.

Untuk menaggapi kasus ini menurut konsultasisyariah ada dua sudut pandang yang bisa diambil, yaitu hukum membaca Al-Quran dengan irama (lahn) dan libelarisasi Al-Quran.

Jika memang membaca Al-Quran dengan lagam jawa ini memakai sudut pandang yang pertama, maka kita harus menetapkannya apakah irama tersebut tidak dibuat-buat dan memang cara membaca Al-Quran oleh masyarakat pada umumnya atau sebagaimana yang dilakukan para imam ketika mengimami shalat. Jika memang itu alasannya maka diperbolehkan.

Namun, jika irama bacaaan Al-Quran dibuat-buat mengikuti irama lagu tertentu maka hukumnya dilarang. Seperti yang dikutip dari konsultasisyariah “ Irama bacaan al-Quran yang dibuat-buat, mengikuti irama musik, atau irama lagu tertentu.Yang semacam ini tidak bisa dilakukan kecuali melalui latihan. Ada nada-nada tertentu, yang itu bisa keluar dari aturan tajwid. Cara baca semacam ini hukumnya terlarang.”

Jika sudut pandang yang diambil adalah liberalisasi Al-Quran, maka pendapat konsultasisyariah adalah. “Barangkali ini yang perlu lebih mendapatkan perhatian. Untuk generasi saat ini, langgam lagu macapat hampir terlupakan. Hanya digunakan untuk suasana resmi hiburan resepsi pernikahan. Masyarakat jawa sendiri sudah banyak yang meninggalkannya. Ketika kita belajar al-Quran di surau atau TPA, kita tidak pernah diajari cara membaca al-Quran seperti itu.

Karena itu, wajar ketika ada orang yang membaca al-Quran dengan langgam yang aneh tersebut, spontan memicu banyak reaksi dari kaum muslimin. Jika itu satu hal yang lumrah bagi mereka, tidak akan mereka permasalahkan.

Ini kembali satu kata, ‘menciptakan sensasi’ dan suasana baru dalam bacaan al-Quran. Ulah orang-orang liberal, untuk memancing emosi kaum muslimin. Dengan niat yang tidak baik, bisa jadi tidak jauh jika ini dimasukkan  dalam kategori istihza’ (mempermainkan) terhadap al-Quran.”

Mungkin dalam segi bahasa aka nada perbedaan cara orang melafalkan beberapa huruf Al-Quran. Misalnya kebiasaan orang sunda yang sulit mengucapkan ‘fa’ dan diganti dengan huruf ‘pa’ tanpa disadarinya. Dan itu bukan sesuatu yang dipaksakan.

(Visited 448 times, 1 visits today)