Benarkah Perempuan yang Sedang Haidh Tidak Boleh Potong Kuku dan Potong Rambut?

131 views Leave a comment
Benarkah Perempuan yang Sedang Haidh Tidak Boleh Potong Kuku dan Potong Rambut?

Dailymoslem – Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar mitos bahwa perempuan yang sedang haidh diharamkan untuk memotong kuku, memotong rambut, atau bahkan keramas karena anggota tubuh yang terbuang pada saat junub tersebut akan kembali pada kita di hari akhir dan meminta pertanggung jawaban.

Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemui di kitab berjudul “Ihya’ ‘ulum al-Din” oleh Imam al-Ghazali.

Berkata Al-Ghazali dalam al-Ihya’: Tidak semestinya memotong (rambut) atau menggunting kuku atau memotong ari-ari, atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu bagian tubuh dalam keadaan junub, mengingat seluruh anggota tubuh akan dikembalikan kepada tubuh seseorang. Sehingga (jika hal itu dilakukan) maka bagian yang terpotong tersebut kembali dalam keadaan junub. Dikatakan: setiap rambut dimintai pertanggungjawaban karena janabahnya.

Namun, dalam kitab itupun Al-Ghazali tidak mengharamkannya, melainkan hanya memakruhkannya saja, terlihat dari kata yang digunakan, yaitu “tidak semestinya.”

Pendapat tersebut kemudian dibantah oleh mayoritas ulama Syafi’iyah. Dalam kitab Syafi’i yang berjudul “Niyatul Muhtaj Syarh al-Minaj” disebutkan bahwa bagian tubuh yang akan kembali pada pemiliknya setelah kematian adalah badan asli yang pernah terpotong, bukan seluruh kuku dan rambut yang pernah dipotong selama hidupnya.

’Atho bin Abi robah ra, seorang tabi’in senior menyatakan, “Seorang yang junub (diperbolehkan) melakukan hijamah (pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor) dan memotong kuku dan menggunting rambutnya, walaupun ia belum berwudhu.” (Shahih al-Bukhari 1/496)

Persoalan ini juga dibahas oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab berjudul “Majmu’ Al-Fatwa.” Menurutnya, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, seorang mukmin itu tidak najis, meski ia sedang ada dalam masa haidh. Yang najis hanyalah darah haidh-nya dan bukan orangnya, demikian juga dengan orang junub.

“Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis.” (HR Bukhari Muslim). Bahkan jika seorang mukmin yang sudah meninggal, jenazahnya tidak disebut najis (HR Hakim).

Sebagaimana Firman Alla SWT, sebutan najis hanya untuk orang-orang kafir saja.

“Hanyalah orang-orang musyrik itu najis.” (QS at-Taubah [10]: 28).

Meski sedang haidh, sebaiknya seorang perempuan tetap menjaga kebersihan dirinya, termasuk membersihkan dan merapikan rambut, juga memotong kuku jika sudah panjang. Hal ini dicontohkan oleh istri Rasulullah, Aisyah RA ketika sedang menunaikan haji Wada’ bersama Rasulullah.

Aisyah mendapati dirinya haidh, kemudian Nabi SAW memintanya untuk mandi dan bersisir. “Uraikan rambutmu dan bersisirlah. Serta berihlal (talbiyah) dengan haji dan tinggalkan umroh,” sabda Beliau SAW. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab “Tuhfatul Muhtaj” (4/56) disebutkan bahwa ahli fiqh Mazhab Syafi’iyah secara tegas membolehkan wanita yang sedang haidh atau nifas untuk memotong kuku, memotong rambut atau mencukur bulu-bulu di tubuh. Tidak ada keterangan bahwa hal tersebut akan berdampak buruk di hari kebangkitan nanti.

Dalam “Fath al-Bari Syarah Shohih al-Bukhari”, Ibnu Rajab al-Hanbali menyatakan bahwa tidak ada khilaf (perbedaan) tentang bolehnya ini (menyisir rambut atau memotong kuku) di antara ashabina (ulama mazhab Hanbali) kecuali Abu al-Farj al-Syirozi.

Wallahu ‘alaam bisshawab.

Sumber: Muslimah.

(Visited 333 times, 1 visits today)