Sedih, Kisah Nyata Tentang Pernikahan Kamal dan Idzni Dari Malaysia Ini Menguras Air Mata

4520 views Leave a comment
Sedih, Kisah Nyata Tentang Pernikahan Kamal dan Idzni Dari Malaysia Ini Menguras Air Mata

Dailymoslem – Menikah dengan orang yang dicintai, merupakan anugrah indah bagi setiap pasangan. Dengan rasa cinta itu, cobaan rumah tangga seberat apapun akan dapat dihadapi bersama. Berjuang dan saling menjaga. Mengubah duka menjadi suka, mengubah kelam menjadi tenang.

Seperti kisah pasangan muda dari Malaysia ini. Kisah cinta sejati, yang tak luntur meski mahligai rumah tangga tak bisa diarungi lagi tepat di satu tahun pernikahannya. Mereka adalah Nik Idzni Dalila dan Kamal Effendi.

Menikah pada 27 Desember 2015

Meskipun Idzni-panggilan akrab sang istri- hanya dapat memantau persiapan pernikahannya dari jauh, karena ia sedang menempuh pendidikan kedokteran diĀ  Queen Mary University of London. Namun kedua pasangan romantis ini, akhirnya dapat menggelar pernikahan yang khidmat pada 27 Desember 2015 silam. Kerabat dan teman-temannya ikut berbahagia atas pernikahan tersebut. Bahkan dua orang sahabatnya di London pun ikut terbang ke Malaysia untuk menyaksikan perjanjian nan agung antara Idzni dan Kamal.

Menikah adalah menerima dengan sepenuh hati

Memilih seorang yang akan dijadikan teman hidup, barangkali butuh keyakinan dan kemantapan hati. Banyak sekali orang yang sangat memperlihatkan latar belakang keluarga hingga masalah fisik sebelum menikah. Namun tidak bagi pasangan ini. Mereka disatukan, murni karena kasih sayang yang Allah berikan.

Kamal, seorang guru bahasa Inggris menerima Idzni sebagai istrinya dengan sepenuh hati. Lengkap, satu paket dengan kekurangannya. Banyak orang yang bertanya pada pria 26 tahun ini mengenai keputusannya memperistri seorang pasien kanker stadium empat.

Dengan pasti ia menjawab ‘Ya’. Bahkan, Kamal mengatakan bahwa istrinya itu adalah wanita paling independen, paling berani paling kuat melebihi gadis-gadis lain yang ia kenal.

View this post on Instagram

I didn't know it could be that significant for my wife for the fact that she passes her final and very soon to be a doctor. After I read what she wrote on her blog I burst to tears; of how this good news actually a very important one. I think as much as my wife is open about her sickness, let me open up a bit to you whomever reading this. I was married to her so fast that we technically skipped dating. I told very few people about getting married and even less about whom I will be married to. Along the way, it is interesting because out of few people I shared the good news, half of them among friends questioned my choice; to marry a stage four cancer patient. Somewhat, I found that funny. I am so much of a person who is not about the look. This sickness that people sometimes make my wife feel less than a normal person does, was the actual reason I decided to tie the knot with her. Cancer has defined her to be the most independent, bravest and strongest girl I know of, and for that; she is the most attractive person I have known, and for that; she is definitely more than any girls I've known. Six months later, we're married a day after my birthday and we make it through long distance relationship prior her study in London. I don't know how much God will grant me time to make her happy, neither does she knows how much time we have. Knowing her now, her unshakeable faith truly taught me about the dependency on God. It is not even a year we live our life as husband and wife, but all I could say this woman is definitely my right choice. She is my girl, Doctor Idzni Dalila. I'm so proud of you sayang, and will always be. Love always, Your Instagram husband

A post shared by Kamal Effendi K. (@kamaleffendi) on

Long Distance Marriage

Menempuh pendidikan di luar negeri, mengharuskan Idzni menjalani long disntance marriage dengan suami yang amat dicintainya. Tegar dan sabar. Itulah yang harus ada dalam benak wanita cantik ini setiap hari. Beruntung, sang suami terus memberikan semangat dan motivasi untuknya.

Waktu bertemu adalah hal paling ditunggu-tunggu

Lulus dari Universitas

Pendidikan pun akhirnya paripurna. Berita kelulusan sang istri menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Kamal. Saat itu, rasa bangganya membuncah. Bagaimana tidak? Sang istri dengan kondisi yang seperti itu, mampu lulus dari Universitas yang tergolong paling baik di London.

Kebahagiaan saat wisuda

Karena cinta yang membuat hal sulit jadi lebih mudah dilakukan

Menjadi pendamping seseorang dengan kanker stadium empat, bukan lah hal yang mudah. Ada hati yang harus lebih kuat saat melihat orang yang dicintai kesakitan, ada senyum yang harus tetap mengembang meski tangis sudah diujung mata.

Idzni paham, bahwa apa yang dilakukan suaminya bukanlah hal mudah. Oleh karena itu, ia tak dapat berhenti berterimakasih pada Allah telah mempertemukannya dengan lelaki dengan penuh kasih sayang seperti Kamal.

Kondisi Sang Istri Kian Memburuk, Profesi Dokter Yang Telah Diraihpun Harus Dilepas

Berat memang, saat harus melepas apa yang telah diperjuangkan. Diamanahi menjadi seorang dokter adalah cita-cita ya Idzni kejar habis-habisan. Dengan kondisinya yang sakit, ia tetap mengejar impiannya. Namun diawal karirnya, Ia harus memilih antara kesehatan atau menikmati pekerjaan.

“Sangat emosional, karena aku tidak pernah memikirkan untuk melakukan sesuatu yang lain (tidak menjadi dokter), tapi diam di tempat dan melakukan sesuatu yang menghancurkanku setiap hari, bukan sesuatu yang bijaksana” ungkapnya dalam sebuah postingan instagram. Akhirnya setelah melakukan istikharah, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan fokus pada kesehatannya.

Seiring kondisi kesehatannya yang semakin menurun, Idzni pun diharuskan untuk melakukan berbagai terapi. Bahkan tak jarang ia harus bermalam di rumah sakit dengan seluruh badan yang terasa remuk dan dada seperti tusuk tak berhenti.

Saat mengalami kesakitan, keluarganya belum tiba di London. Ia pun beberapa lama harus menahan sakitnya sendiri tanpa kehadiran keluarga. Namun, sekali lagi ia beruntung. Ia memiliki teman yang begitu perhatian. Tak jarang, teman-temannya menemani dan memberikan makanan kesukaannya.

Setegar-tegarnya batu karang, jika terus dihempas ombak ia akan mengecil dan mungkin hilang seiring waktu. Begitupun dengan Idzni, ia kuat, tegar dan selalu berpikiran positif pada Allah. Namun kadang, ia juga berada di titik terlemahnya.

Doa terus mengalir, untuk kesembuhan Idzni. Suami tersayang pun selalu berusaha untuk terus menemaninya di London. Meninggalkan pekerjaan dan urusan lainnya di Malaysia.

View this post on Instagram

Alhamdulillah ala kulli hal, get well soon sayang!

A post shared by Kamal Effendi K. (@kamaleffendi) on

Pasangan ini tahu benar, bahwa kasih sayang dari Allah adalah satu-satunya alasan atas semua hal yang terjadi. Pertemuan, pernikahan, penyakit, suka, duka dan semua hal yang terjadi dalam kehidupan adalah atas izin Allah dan sudah ditentukan beribu tahun sebelum manusia diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, mereka selalu mengingatkan diri agar selalu memperjuangkan yang terbaik dan menyerahkan hasilnya pada Allah.

“This will save us from much anxiety & depression. Try your best and leave the rest to Him.” — Mufti Menk” Kutipan yang ditulis Kamal.

Dan perjuangan itu, berakhir…

Apapun yang direncanakan manusia, maka Allah lah yang memutuskannya. Apapun yang diperjuangkan oleh manusia, maka Allah yang menentukan akhirnya.

Tepat pada hari pernikahannya. Idzni akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Namun ini adalah salah satu hal yang harus dihadapi dengan tegar, karena sesungguhnya wafat hanyalah memisahkan wujud. Hati yang bergemuruh dengan cinta akan terus terpaut.

Curahan hati suami

Somewhat everything feels like a dream, a temporary moment of reverie; thoughts floating with feet not quite on the ground and head is way above the clouds.

Of all days, Allah decided to take you today, on our first wedding anniversary. Who would ever thought, on the very same date after 365 days; that same hand I first time held now would be my last time to hold.

You are still as beautiful as I could remember, your soft hands and your fair skin, they never changed. The same kiss that was once felt hot because of the flush now as cold as ice.

I could not bear leaving you alone. I want to stay, but I have to accept we two now no longer exist in the same world with different time, different currency. I am pretty sure your place is better than mine.

If you were still here today, you know how much I will spoil you with love on our anniversary. The present that I spent time making now is for myself to keep, but it’s okay, we already make a promise, when you in heaven, please look for me, I’ll be waiting for you too. You will always be my first love and truest soul mate.

Happy first anniversary sayang, much love from a far, I love you, always.

Ever thine, ever mine, ever ours.

Alhamdulillah ala kullihal.

(Visited 1 times, 1 visits today)



[shareaholic app="recommendations" id="15559134"]