Kapankah Waktu yang Pas untuk Mengkhitan Anak Laki-Laki?

136 views Leave a comment
Kapankah Waktu yang Pas untuk Mengkhitan Anak Laki-Laki?

Dailymoslem – Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua Muslim yang memiliki anak laki-laki untuk mengkhitan anak mereka agar sempurna agamanya. Namun, berapakah usia yang tepat bagi anak laki-laki untuk dilakukan khitan?

Beberapa orangtua memilih waktu yang cukup dini seperti di usia lima tahun atau tiga tahun. Namun, di beberapa daerah di Indonesia terdapat kebiasaan untuk mengkhitan anak mereka di usia remaja atau usia belasan.

An Nawawi berkata:

“Disunnahkan (mustahab) bagi wali si anak untuk mengkhitankannya saat ia masih kecil, karena hal ini lebih baik baginya.” (Al Majmu’, 1/351).

Namun, tidak disebutkan tepatnya berapa usia anak yang pas untuk dilakukan khitan.

Ibnul Mundzir berkata:

“Tidak terdapat riwayat yang dapat dijadikan rujukan terkait dengan waktu sirkumsisi, dan tidak terdapat sunnah untuk diikuti (dalam masalah ini, -red).

Sebagian ulama berpendapat bahwa waktu yang tepat untuk melakukan khitan adalah setelah si anak sampai pada masa pubertas atau baligh, karena ia tidak memiliki beban syari’ah apapun sebelum sampai pada masa pubertas.

(Baca: Cara Bijak Menyiapkan Anak Laki-Laki Pada Mimpi Basah dan Akil Baligh)

An Nawawi berkata:

“Sahabat-sahabat kami mengatakan: Waktu dimana khitan menjadi wajib adalah setelah pubertas,” (Al Majmu’, 1/351).

Sedangkan Ibnul Qayyim -rahimahumullahu- memilih pendapat yang mewajibkan khitan sebelum anak sampai pada masa pubertas, dengan tujuan agar anak memasuki masa pubertas dalam kondisi telah dikhitan. Namun, kewajiban ini ada pada walinya dan bukan pada anak tersebut.

Ibnul Qayyim mengatakan:

“Menurutku, diwajibkan bagi wali anak untuk mengkhitankannya sebelum usia pubertas, sehingga ia dapat tumbuh dalam keadaan telah berkhitan, karena tanggung jawab atau tugas hanya dapat dilakukan dengan cara ini.. Nabi -Shallallaahu’alaihi wa Sallam menyeru para ayah untuk menyuruh anak-anak mereka untuk melaksanakan sholat pada saat mereka berusia 7 tahun, dan memukul mereka jika mereka tidak melaksanakannya saat berusia 10 tahun, maka alasan apakah yang dapat membenarkan tindakan tidak mengkhitan mereka kecuali setelah mereka mencapai masa pubertas?”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Berkaitan dengan khitan, kapanpun ia (si anak) mau, ia dapat dikhitan, namun jika ia telah mendekati usia pubertas ia harus dikhitan, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab, untuk memastikan bahwa ia tidak mencapai pubertas dalam keadaan belum berkhitan.” (Al Fataawa Al Kubra, 1/275)

Semoga bermanfaat!

(Visited 349 times, 1 visits today)