Hai Para Suami, Memakan Harta Istri Tanpa Sepengetahuan Adalah Dosa

2120 views
uang istri

Dailymoslem – Dalam rumah tangga yang wajib menafkahi keluarga adalah seorang suami. Oleh karena itu sudah lumrah jika seorang lelaki lebih banyak yang bekerja dibandingkan dengan perempuan. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan ada wanita yang bekerja bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

Berbeda dengan pendapatan atau gaji suami yang juga menjadi hak bagi istrinya, gaji istri dari pekerjaan yang dia lakukan adalah milik istri saja tidak ada hak bagi suaminya sedikitpun. Kecuali jika istri dengan ikhlas memberikannya untuk membantu atau menopang keuangan keluarga.

Jika seorang suami memakan harta milik istri tanpa sepengetahuan, maka bisa diakatakan berdosa. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

Janganlah memakan harta orang lain di antara kalian secara batil.” (Q.S An-Nisa: 83)

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman al Jibrin pernah ditanya tentang hukum suami yang mengambil uang (harta) milik isterinya, untuk digabungkan dengan uangnya (suami). Menjawab pertanyaan seperti ini, Syaikh al Jibrin mengatakan, tidak disangsikan lagi, isteri lebih berhak dengan mahar dan harta yang ia miliki, baik melalui usaha yang ia lakukan, hibah, warisan, dan lain sebagainya. Itu merupakan hartanya, dan menjadi miliknya. Dia yang paling berhak untuk melakukan apa saja dengan hartanya itu, tanpa ada campur tangan pihak lainnya.

Meskipun penghasilan istri tersebut adalah hak dari dirinya sendiri, namun suaminya adalah orang paling utama yang berhak menerima sedekah istriya dibandingkan dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan hadits ini:

Al Bukhari meriwayatkan hadits Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihnya, ia berkata:

“Dari Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu anhu : … Zainab, isteri Ibnu Mas’ud datang meminta izin untuk bertemu. Ada yang memberitahu: “Wahai Rasulullah, ini adalah Zainab,” beliau bertanya,”Zainab yang mana?” Maka ada yang menjawab: “(Zainab) isteri Ibnu Mas’ud,” beliau menjawab,”Baiklah. Izinkanlah dirinya,” maka ia (Zainab) berkata: “Wahai, Nabi Allah. Hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Sedangkan aku mempunyai perhiasan dan ingin bersedekah. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku,” Nabi bersabda,”Ibnu Mas’ud berkata benar. Suami dan anakmu lebih berhak menerima sedekahmu.” Dalam lafazh lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salllam menambahkan:

“Benar, ia mendapatkan dua pahala, pahala menjalin tali kekerabatan dan pahala sedekah.”

Syaikh Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd mengatakan, pelajaran dari hadits di atas adalah:
1. Diperbolehkan bagi wanita bersedekah untuk suaminya yang miskin.
2. Suami adalah orang yang paling utama untuk menerima sedekah dari isterinya dibandingkan dengan orang lain.
3. Isteri diperbolehkan bersedekah untuk anak-anaknya dan kaum kerabatnya yang tidak menjadi tanggungannya.
4. Sedekah isteri tersebut termasuk bentuk sedekah yang paling utama.

(Visited 20,298 times, 1 visits today)