Beruban Dalam Pandangan Islam, Lebih Baik Dicabut atau Diwarnai?

152 views Leave a comment
Beruban Dalam Pandangan Islam, Lebih Baik Dicabut atau Diwarnai?

Dailymoslem – Seiring dengan bertambahnya umur seseorang, beberapa bagian tubuh ikut berubah. Misalnya kulit yang mengendur, tulang punggung yang membungkuk, gigi yang mulai tanggal dan juga rambut yang beruban. Tanda-tanda tersebut tidak lain merupakan hal yang seharusnya mengingatkan manusia pada kematian yang datang tiba-tiba.

Berbicara tentang uban, rambut yang berubah menjadi putih ini adalah salah satu tanda yang paling kentara bagi seseorang. Kadang, hal ini juga menjadi masalah tersendiri. Beberapa orang yang ubannya tumbuh di usia yang tidak terlalu tua akan merasa malu. Akhirnya mencabuti uban atau mewarnainya menjadi dua hal yang harus dipilih.

Sebagai seorang penganut agama Islam yang peraturannya sangat menyeluruh, apa sih yang harus dilakukan saat uban tumbuh?

Aturan dalam Islam jelas tertera pada kitab Al-Quran dan Al-hadits yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, apapun yang akan dilakukan sebaiknya berdasar kepada Al-Quran dan Al-hadits. Rasulullah bersabda,

Berpegangteguhlah dengan ajaranku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37)

Dalam hal uban, beberapa ulama memang berbeda pendapat. Sebagian menyatakan bahwa membiarkannya saja merupakan hal yang elabih baik.

““Para ulama salaf yakni sahabat dan tabi’in berselisih pendapat mengenai masalah uban. Sebagian mereka mengatakan bahwa lebih utama membiarkan uban (daripada mewarnainya) karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai larangan mengubah uban [Namun hadits yang menyebutkan larangan ini adalah hadits yang mungkar atau dho’if, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah]. … Sebagian mereka berpendapat pula bahwa lebih utama merubah uban (daripada membiarkannya). Sehingga di antara mereka mengubah uban karena terdapat hadits mengenai hal ini. ” (Nailul Author, 1/144, Asy Syamilah).

Beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah tidak melarang mewarnai uban adalah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa bersabda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Abu Malik Asy-ja’iy dari ayahnya, bahwa beliau berkata,

“Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wars dan za’faron”. (HR. Ahmad dan Al Bazzar. Periwayatnya adalah periwayat kitab shahih selain Bakr bin ‘Isa, namun dia adalah tsiqoh –terpercaya-. Lihat Majma’ Az Zawa’id)

Namun meskipun mengubah warna uban itu diperbolehkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetap saja ada warna yang tidak diperbolehkan, yaitu warna hitam.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).
Sedangkan, untuk mencabut uban ternyata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyatakan larangnya melalui hadits-hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Olehkarena itu, sebaiknya uban tidak dicabut seperti hadits yang disebutkan diatas. Jadikanlah ia sebagai pengingat bahwa hidup akan berakhir kapanpun sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga:

 

(Visited 153 times, 1 visits today)