Beginilah Cara Rasulullah Membahagiakan Istri

12449 views

Dailymoslem – Lelaki dalam rumah tangga memang dianggap sebagai imam, pemimpin, kepala keluarga. Dimana dirinya harus menjaga anak dan istri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak di ridhai oleh Allah. Terkadang para lelaki malah menyalah gunakan hadist tentang laknat Allah terhadap istri yang menolak permintaan suaminya agar mendapatkan hal yang diinginkannya. Namun mereka lupa bagaimana sesungguhnya cara membahagiakan istri.

Sebagian dari mereka menyangka bahwa dengan hanya memberikan harta, maka para istri akan bahagia. Padahal kebahagiaan itu tidak melulu berbicara tentang banyaknya harta yang dapat dinikmati. Berikut ini adalah beberapa tindakan sederhana yang mampu meluluhkan dan membahagiakan hati seorang istri.

Kebahagiaan seorang istri itu ada saat suami mampu menenangkan perasaan yang sedang sedih

Wanita adalah manusia biasa, yang hatinya mudah sekali terluka. Alangkah bahagianya seorang wanita memiliki suami yang mampu menenangkan perasaannya. Bukannya malah balik memarahi saat melihat istrinya menangis.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun pernah menenangkan istrinya, Shafiyah binti Huyay. Pada hari itu, Beliau melihat Shafiyah menangis. Ternyata yang membuat dirinya menangis adalah karena Hafsah mengatakan bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi.

Rasulullah pun kemudian berkata “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa!” (Tafsir Al-Qurthubi)

Wanita mana yang hatinya tidak langsung tenang bila di bela oleh sang suami. Rasanya hati yang tadinya berkecamuk langsung reda mendengar kata-kata lembut yang menenangkan hati.

Turut serta membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga

 Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang banyak sekali lelaki yang enggan membantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal bila suami ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah bukan main bahagianya seorang istri.

Mungkin jika dilihat begitu saja, pekerjaan rumah memang tampak mudah dan ringan. Namun siapa sangka saat kita mengerjakannya, baru kita sadari bahwa tugas seorang istri sangatlah berat. Ia harus menyeimbangkan rumah tangganya. Aisyah pernah ditanya mengenai apa yang dilakukan Rasul saat ada dirumahnya. Aisyah menjawab “Beliau selalu melayani (membantu) istrinya.”

Meskipun dalam keadaan emosi, suami masih bisa berpikir dengan logis dan bijaksana

Suami memang masih manusia. Dimana suatu ketika mungkin pernah merasa emosi atau ingin marah. Namun alangkah indahnya apabila suami masih dapat menahan emosi sehingga tidak melukai hati istri dengan kata-kata yang kasar. Segala masalah insha Allah ada jalan keluarnya. Allah tidak akan menguji seseorang apabila ia tidak mampu untuk mengatasinya.

Saat suami meminta pendapat istri, mereka akan berpikir bahwa dirinya dihargai

Dimintai pendapat, menjadi salah satu tanda bahwa kita dianggap penting dan sangat dihargai. Jadi saat sang suami meminta pendapat istri, maka sungguh istri akan sangat senang. Dirinya dianggap penting sehingga suami meminta pendapat dari suatu masalah yang menimpanya.

Rasulullah pun pernah meminta pendapat Ummu Salamah saat perjanjian Hudaybiyah. Meskipun seorang Rasul, Beliau tidak merasa keberatan mendengar dan mengambil pendapat dari istrinya.

Sabar ketika istri sedang manja

Lelaki yang sabar saat istri ingin bermanja-manjaan adalah lelaki harapan setiap wanita. Karena banyak juga suami yang egois. Tidak memiliki kemauan untuk memanja istrinya. Padahal Rasulullah pun memanja istrinya. Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita:

Suatu hari, beberapa orang laki-laki dari Habasyah datang ke Madinah. Mereka mulai bermain di masjid dengan rebana. Orang-orang melihat mereka dengan gembira.

Rasulullah SAW masuk ke tempat Sayyidah Aisyah dan bertanya, “Wahai Humaira’, apakah kamu suka melihat mereka?”

“Ya, saya suka,”jawab Aisyah.

Maka, Nabi Muhammad SAW berdiri di depan pintu untuk menutupinya sementara Aisyah meletakkan dagunya di bahu beliau. Pipinya menempel di pipi Rasulullah SAW. Ia terus melihat mereka yang sedang bermain di masjid dengan gembira.

Setelah beberapa waktu, Rasulullah SAW berkata, “Sudah cukup?”

“Belum, Jangan buru-buru, wahai Rasulullah.”

Rasulullah SAW terus berdiri sampai Aisyah pergi sendiri.

Aisyah berkata, “Demi Allah, aku tidak tertarik melihat mereka bermain. Namun, aku ingin para wanita mengetahui kedudukan Rasulullah SAW dariku.”

 

 

 

(Visited 8,955 times, 1 visits today)