Astagfirullah, Manusia Makhluk Paling Rakus Yang Pernah Ada

2605 views

Dailymoslem – Manusia memang diciptakan oleh Allah satu paket dengan segala nafsu yang ada didalam dirinya. Sifat tamak dan rakus sudah seyogyanya ada dalam diri manusia. Banyak manusia yang salah kaprah menilai dirinya sendiri sebagai makhluk yang paling baik dan melabeli beberapa binatang untuk dicap sebagai makhluk rakus. Contohnya babi. Kita mencemooh babi sebagai makhluk paling rakus sejagad raya, karena babi memakan segala yang ada didepan matanya termasuk kotorannya sendiri.

Namun, mari kita renungkan lagi. Siapa yang lebih tamak dan rakus dari seluruh makhluk yang ada? Apakah benar babi adalah makhluk yang paling rakus? Jawabannya tidak.

pembalakan liar

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lihat siapa yang lebih rakus? Apa ada hewan di muka bumi ini yang mampu melakukan itu semua? Tidak. Hanya manusia yang melakukannya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman.

“… dan sesugguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S Al-A’raf : 179)

Ya, Allah menguji manusia dengan sifat tamak dan rakus. Allah ingin melihat mana manusia yang menggunakan hatinya untuk melihat mana hina mana mulia. Mereka yang mampu menyingkirkan tamak dan rakus yang menggelayutinya akan menerima penghargaan terbesar yaitu syurga. Dan mereka yang terbuai akan kerakusannya sendiri akan dilempar pada api yang menyala-nyala.

(Baca juga: Bolehkah Kita Bersedekah Atas Nama Ibu Atau Bapak Yang Telah Wafat? )

Coba kita renungkan sedikit lagi. Apakah alasan kita untuk bekerja selama ini sudah benar? Jangan-jangan selama ini kita hanya bekerja mencari uang untuk hanya mengikuti teori Keynes akan uang. Yaitu transaksi, spekulasi dan berjaga-jaga. Lalu apakah kita mendapatkan kepuasan setelah mengumpulkan kekayaan yang melimpah?

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu al-Zubair tatkala di atas mimbar di Mekah dalam kubtahnya, beliau berkata; Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)

(Baca juga: Dahulukan Allah, Maka Allah Akan Dahulukan Keinginan Kita)

Jadi ayo kita sama-sama putar arah. Perbaiki niat kita dalam bekerja. Coba buka mata untuk sesama manusia. Lihat apakah mereka tertidur dalam keadaan lapar, sedangkan kita tidur dengan perut yang penuh kekenyangan oleh makanan. Harta bukanlah sesuatu yang harus dikejar. Harta akan terus berlari menjauh saat kita mengejarnya. Merka melesat dengan cepat saat kita mulai melangkah untuk menangkapnya.

Megejar harta bak lomba lari tanpa garis finish. Kita akan tergopoh-gopoh berlari tanpa henti untuk menggapainya. Namun, tanpa sadar kita telah jauh meninggalkan kenikmatan yang sesungguhnya.

 

 

 

(Visited 1,134 times, 1 visits today)



[shareaholic app="recommendations" id="15559134"]