Tren Crown Gigi Dalam Pandangan Islam

159 views Leave a comment
Tren Crown Gigi Dalam Pandangan Islam

Dailymoslem – Semakin majunya ilmu kedokteran, kini gigi yang kurang menarik dapat dipasang crown. Crown merupakan teknik memberikan sarung pada gigi yang bermasalah. Tujuannya untuk membuat gigi menjadi lebih kuat serta mempunyai nilai estetika. Tekniknya dengan mengikir terlebih dahulu, kemudian disarungkan restorasi gigi (crown). Timbullah pertanyaan, bolehkah kita melakukan hal ini menurut tinjauan syariah?

Soal mengikir gigi, secara sharih (jelas) ada hadits Nabi SAW yang mengecamnya. Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat wanita-wanita yang mengikir (gigi) agar lebih cantik dan wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari Muslim).

Hadits tersebut tidak hanya ditujukan untuk wanita saja, namun juga pria agar tidak mengubah ciptaan Allah SWT.

Dalam memandang masalah ini, para ulama mengedepankan maqashid syariah (tujuan yang melatar belakangi perbuatan tersebut). Berdasarkan kaidah fikih, Al-umuru bimaqashidiha(suatu perbuatan dinilai dari tujuan melakukannya).

Dalam hadits sahih soal larangan mengikir gigi tersebut, jelas tujuannya yaitu untuk mengubah ciptaan Allah SWT. Mukallaf (pelaku) diistilahkan dengan wanita sebagai isyarat bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk kecantikan. Jadi rumusnya, perbuatan yang mengubah organ tubuh dengan alasan kecantikan adalah haram.

Dalil larangan mengubah organ tubuh ini ditegaskan dalam Al-Quran. Firman Allah SWT, “Dan aku (Iblis) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga binatang-binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya”. Brangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa [4]: 119).

Adapun jika ada tujuan-tujuan lain yang disebabkan uzur syar`i, seperti pengobatan atau menutup aib, maka hal ini diperbolehkan. Hal ini berdalil dari hadits yang diriwayatkan Abdurrahman bin Tharafah. Ia mengisahkan kakeknya, Arfajah bin As`ad mengalami luka ketika mengikuti peperangan. Hidung si kakek terpotong. Untuk menutupi cacatnya tersebut, ia menutupnya dengan perak, namun hidungnya kian membusuk. Nabi SAW memerintahkan untuk menutup hidungnya dengan emas (HR Abu Daud).

Kaidah asalnya, kaum laki-laki dilarang untuk memakai emas. Namun dengan alasan berobat atau menutup cacat seseorang, maka hal ini diperbolehkan. Kaidah hukum ini bisa dikembangkan bagi mereka yang memiliki gigi tonggos. Boleh hukumnya untuk meratakan giginya ke bentuk normal. Hal ini bukan termasuk dalam rangka mempercantik diri. Karena yang dimaksudkan mempercantik diri berasal dari anggota tubuh yang normal, bukan cacat.

Demikian juga pemasangan crown untuk gigi yang rapuh yang dikhawatirkan akan mengalami kerontokan. Atau pada kasus gigi berlubang yang dikhawatirkan akan semakin parah jika tidak dipasangi crown. Atau gigi patah karena kecelakaan sehingga ia terkategori sebagai orang yang cacat gigi. Demikian juga gigi yang bermasalah dan mengganggu dalam mengunyah makanan. Dalam kasus ini diperbolehkan, berdalil dengan hadits riwayat Abu Daud tersebut, seperti dikutip dari harian republika.

(Sumber: halhalal.com)

Baca juga:

Rahasia Manfaat Pisang untuk Kecantikan Wanita

5 Manfaat Wudhu untuk Kesehatan dan Kecantikan

6 Manfaat Air Garam untuk Kecantikan Wajah

 

(Visited 148 times, 1 visits today)