Jangan Asal Makan Antibiotik, Penyakit-Penyakit Ini Tak Perlu Antibiotik

163 views Leave a comment
Jangan Asal Makan Antibiotik, Penyakit-Penyakit Ini Tak Perlu Antibiotik

Dailymoslem – Salah kaprah pada penggunaan antibiotik memang sering terjadi. Hampir seolah semua penyakit perlu diberikan antibiotik agar cepat sembuh. Padahal, tidak selalu seperti itu kasusnya. Antibiotik hanya diperlukan jika penyebabkanya adalah bakteri, jamur, atau parasit. Sementara jika yang terjadi adalah peradangan lokal, atau infeksi virus, antibiotik tidak diperlukan.

(Baca juga: (Wajib Tau!) Kapan Antibiotik Harus Dipakai Dan Tidak)

Nah kira-kira, penyakit apa saja yang sebenarnya tidak harus menggunakan antibiotik untuk merawatnya?

 

Radang Tenggorokan
Pada saat merasakan nyeri pada tenggorokan, atau nyeri pada saat menelan, mungkin anda mengira bahwa anda mengalami infeksi bakteri pada tenggorokan. Pada kenyataannya, jumlah infeksi bakteri pada tenggorokan jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan infeksi karena virus. Pada orang dewasa jumlahnya kira-kira adalah 10% nya saja. Namun pada kenyataannya, berdasarkan studi yang dilakukan di Harvard, hampir 60% dari pasien yang mengeluhkan nyeri tenggorokan akan mendapatkan resep antibiotik.

Radang tenggorokan karena streptococcus dapat berwujud nyeri tenggorokan, demam, pembesaran kelenjar limfa pada leher, juga terlihatnya tonsil yang dipenuhi oleh pus (nanah). Sementara radang tenggorokan karena virus biasanya disertau dengan berbagai keluhan lainnya seperti pilek, batuk, juga pegal-pegal.

Pada kasus pertama, yaitu infeksi bakteri streptococcus, pengobatan harus dilakukan dengan antibiotik yang tepat jenis, tepat dosis dan tepat penggunaan. Karena jika tidak, infeksi dapat menyebar baik pada sendi, maupun pada katup jantung. Sementara pada kasus kedua, dimana infeksi terjadi disebabkan oleh virus, antibiotik tidak akan bermanfaat.

Memastikan apakah radang tenggorokan disebabkan oleh virus atau bakteri dapat dilakukan dengan pemeriksaan dari tenggorokan. Selain itu tersedia pula pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi pada bakteri streptococcus.

Terapi yang digunakan untuk infeksi streptococcus adalah antibiotik jenis lama penicillin. Sementara antibiotik jenis baru, seperti azythromicin belum tentu efektif untuk membunuh bakteri ini.

Sementara untuk radang tenggorokan karena virus, cukup dirawat untuk mengurangi gejala yang dirasakan. Baik itu dengan banyak istirahat, banyak minum air, dan obat-batan yang mengurangi keluhan seperti antinyeri atau antidemam.

Bronkitis Akut

Sekali waktu, kita mungkin pernah mengalami batuk keras dan mengeluarkan dahak berwarna kehijauan yang terlihat menakutkan. Namun, kondisi ini  belum tentu hal ini disebabkan oleh bakteri.  Batuk yang keras dan dahak yang kehijauan masih bisa merupakan bentuk perlawanan tubuh terhadap infeksi virus. Warna kehijauan bisa terbentuk dari sel mati pada saluran napas yang rusak oleh infeksi virus.

Kenyataannya, hampir 71% orang yang mengalami bronkitis akut akan mendapatkan antibiotik.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh sikap kehati-hatian dokter yang tidak ingin kecele dengan kasus pneumonia. Keduanya sama-sama bisa menunjukkan gejala batuk, pun begitu pada bronkitis sering juga disertai dengan keluhan nyeri tenggorokan, serta pilek. Sementara pneumonia seringkali muncul dengan demam tinggi, sesak nafas dan juga keluhan nyeri pada dada pada saat batuk.

Meskipun pada bronkitis, batuk dapat berlangsung selama tiga minggu, biasanya pada hari ke 4-5 seseorang sudah merasa baikan. Namun jika anda masih merasa lemas, sebaiknya anda memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan memeriksa suara paru untuk mendeteksi ada tidaknya pneumonia. Dokter juga kemungkinan akan meminta pemeriksaan foto dada untuk memastikan penyakit yang dialami.

Jika hasil pemeriksaan foto dada menunjukkan adanya pneumonia, antibiotik adalah jenis pengobatan yang disarankan. Namun jika yang terjadi adalah bronkitis, anda bisa merawat diri dengan istirahat yang cukup, rehidrasi cairan, serta mengkonsumsi obat batuk simptomatik.

 

Abses Kulit

Abses kulit adalah infeksi pada kulit yang disebabkan bakteri sehingga terbentuk sekumpulan nanah dan sel mati pada lokasi abses. Tampilannya akan tampak seperti jerawat, atau bisul yang berukuran agak besar. Abses juga biasanya akan menyebabkan rasa nyeri yang mengganggu.

Meskipun disebabkan oleh bakteri, biasanya bakteri staphilococcus, abses tidak selalu membutuhkan antibiotik. Terapi utama bagi abses adalah drainase. Hampir setengah kasus abses dapat diatasi dengan drainase saja. Namun, kenyataannya hampir 75% kasus abses selalu diberikan antibiotik.

Drainase dilakukan dengan membuat irisan, atau bukaan kecil sehingga pus dapat keluar. Hal ini dapat dilakukan bagi abses yang simple. Namun untuk kasus yang kompleks, seperti pada kasus pertahanan tubuh yang sangat lemah (imunocomprimise) atau infeksi yang terus menyebar, tentu tetap dibutuhkan antibiotik.

 

Sinusitis

Setiap tahun, diperkirakan 1 dari 9 orang dewasa merasakan gejala hidung terasa penuh dan beberapa titik pada wajah terasa nyeri. Kondisi ini mengisyaratkan adanya peradangan pada saluran drainase hidung atau adanya infeksi pada sinus. Pada kebanyakan kasus, penyebabnya adalah virus, dan bukan bakteri. Namun kenyataannya, 83% dari penderita akan mendapatkan antibiotik.

Jika yang terjadi adalah infeksi sinus karena virus, perawatan yang dilakukan dapat berupa pereda nyeri & demam, decongestan, serta obat batuk-pilek yang dijual bebas.

Antibiotik tetap diperlukan jika ditemukan gejala yang berat seperti demam tinggi, nyeri sinus, gejala yang berlangsung terus menerus selama 10 hari atau gejala yang semakin memburuk.

 

Sakit Gigi

Sakit gigi rasanya memang menyiksa. Tidak heran banyak orang yang menginginkan obat yang bisa menghilangkan keluhan dengan segera. Rasanyeri yang timbul sebenarnya adalah pertanda dari adanya inflamasi.

Bakteri tidak selalu sebagai penyebab dari peradangan yang terjadi, sehingga antibiotik juga tidak dibutuhkan untuk menghilangkan siksaan nyeri sakit gigi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh British Dental Journal, hampir 74% dari orang yang mengalami sakit gigi akan mendapatkan antibiotik. Padahal sebenarnya keluhan nyeri dapat diatasi dengan melakukan perawatan pada lokasi nyeri. Misalnya dengan memasang tambalan, atau menutup akar yang terbuka sambil memberikan obat pereda nyeri.

Antibiotik baru diperlukan pada kasus dimana ada tanda infeksi seperti adanya pembengkakan, ada nanah, atau ada gejala demam, menggigil serta terasa lemas dan tidak bertenanga.

(Visited 1 times, 1 visits today)