Bahaya, Jangan Lihat Gerhana Matahari Langsung!

103 views Leave a comment
Bahaya, Jangan Lihat Gerhana Matahari Langsung!

Dailymoslem – Fenomena gerhana matahari yang diprediksi akan terjadi pada 9 Maret 2016 nanti, menjadi magnet turis-turis asing untuk melihat langsung kejadian alam yang sangat jarang terjadi ini. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memesan tiket dari 2014 lalu.

11 kota besar di Indonesia disebut LAPAN akan menjadi lokasi paling tepat untuk menyaksikan gerhana matahari total. jalur GMT 2016 akan bermula di Palembang (Sumatera Selatan), Bangka Belitung, Sampit dan Palangkara (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Ternate dan Halmahera (Maluku Utara), Sulawesi Barat, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat.

Sementara itu, masyarakat yang berada di Kota Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Manado, dan Ambon bisa menikmati fenomena gerhana matahari sebagian. Fenomena alam ini akan terjadi sekitar 1,5 menit hingga 3 menit.

Namun ternyata menonton gerhana matahari dengan mata telanjang ternyata dapat menyebabkan kebutaan. Hal ini dikarenakan pupil manusia tidak dapat menerima cahaya terlalu terang. Ya, mata manusia dilengkapi pupil yang berfungsi seperti diafragma pada kamera. Saat paparan sinar terlalu terang maka pupil akan mengecil hingga 2 mm dan saat mata melihat matahari secara langsung pupil akan menciut lebih kecil lagi. Bahkan sebenarnya cahaya matahari harus dilemahkan hingga 50 kali agar dapat diterima oleh pupil manusia.

Berdasarkan penjelasan Prof B. Ralph Chou, bahwa meskipun 99% cahaya matahari terlindung oleh bulan pada peristiwa gerhana matarahari sehingga wilayah umbra bumi menjadi gelap (seperti malam), namun tetap ada cahaya radiasi dari matahari yang sampai ke bumi, dan sampai ke mata yang telanjang.

Saat terjadi gerhana matahari , memang cahaya matahari tertutup oleh bulan, sehingga cahaya di sekitar alam menjadi redup. Tetapi meskipun cahaya matahari itu tertutup, pancaran cahayanya tak berkurang sedikit pun, hanya ukurannya saja yang menyusut. Dengan begitu, saat kita melihat matahari tanpa alat atau kacamata khusus pupil mata belum siap untuk bereaksi sehingga menyebabkan kebutaan.

(Visited 185 times, 1 visits today)